dia berkeliling bumi, membawa payung di tangan kanan, dan buku di tangan kiri. pada tempat yang ia singgahi, kemarau berhenti. oasis muncul dari titik di mana ia berdiri, dan ia bukan orang suci, apalagi nabi.
tak ada yang tahu kemana ia akan pergi, sebagaimana tak ada yang mengerti mengapa ia datang kembali. ia melangkah sesuka hati, tak ada yang bisa membujuknya berhenti, tidak dulu, tidak kini, tidak juga nanti.
ia telah menaklukan api, ia juga telah mengurung semua benci. padanya hanya kelembutan, dan ketentraman. matanya senantiasa menatap awan, hatinya berpenuh kesejukan. sebab ia adalah perempuan pemanggil hujan.
Bandar Lampung, 5 April 2019
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H