Lihat ke Halaman Asli

Rika Salsabila Raya

Jurnalisme dan ibu dua anak

Apa Rasanya Terkena Anxiety Disorder? Simak Kisahku!

Diperbarui: 25 Mei 2022   13:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kesehatan. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Schantalao

Semenjak masa sekolah dasar, diriku seperti anak-anak kebanyakan dan memang normal saja. Tapi hal itu berubah ketika di kelas tiga Sekolah Dasar, tuntutan menjadi nomor satu di kelas harus terjadi, rasa cemas dan panik menjadi ciri khas. Hal itu tidak dibarengi dengan dukungan moral dan apresiasi yang layak dari orang sekitar. Ditambah kewajiban untuk bertahan hidup harus dimulai sejak dini, kerasnya lingkungan dan trauma dari kejadian masa lampau. Begini ceritanya..

Anxiety, apa itu? 

Kata itu baru ku ketahui saat mengunjungi Puskesmas di dekat rumah. Setelah mengalami tidak tidur selama hampir seminggu berturut-turut dibarengi rasa cemas berlebihan, gejala makin bertambah runyam saat diriku merasakan dada yang sakit dan nadi yang berdekat cepat. 

Trauma membuatku selalu dihantui, hidungku seperti mencium bahaya di sekitar. Apakah sebelum ke Puskesmas diriku tidak berusaha sendiri? 

Tentu tidak! Aku berusaha mencari informasi agar mata ini bisa tertutup sehingga dapat menikmati mimpi. Itu tidak bisa terjadi, aku memaksakan diri untuk beraktivitas berat seperti lari di taman, berharap kantuk datang. Saat tertidur, diriku mimpi buruk dan terbangun dengan kondisi keringatan seluruh badan. 

Akhirnya, dengan izin ibuku aku mengunjungi poli kesehatan jiwa di Puskesmas. Setelah bercerita segala hal, walaupun tidak terlalu lama namun dokter dengan perlahan mempertanyakan beberapa hal yang krusial kepadaku. "Apa yang sedang kamu sembunyikan di pikiranmu?", pertanyaan itu membuka tabir, bahwa aku diduga mengidap Anxiety Disorder. 

Akhirnya dokter merujuk diriku ke rumah sakit Marinir di Cilandak, sebelum pergi ke sana diriku sudah mengonsumsi obat untuk tidur yang diberikan oleh pihak Puskesmas. 

Aku dapat tertidur hampir 48 Jam karena kuatnya pengaruh obat. Namun obat itu bereaksi keras, jantung berdebar dan mual menghantui. Saat kunjungan terakhir ke Puskesmas, aku dapat saran untuk stop pemakaian obat dan siang itu diriku mengunjungi poli Jiwa di rumah sakit. 

Di sana dokter kembali menanyakan pertanyaan krusial, karena sulit mendetailkan apa yang ku rasakan secara langsung, maka aku gunakan kertas sebagai media untuk diriku bercerita. Benar bahwa diriku mengidap Anxiety disorder. 

Kecemasan menjadi fokus dokter. Surat yang ku berikan saat konsultasi itu dibaca oleh dokter dan di dua minggu berikutnya, dokter memberikan saran dan kembali memberiku obat agar aku dapat beristirahat. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline