Lihat ke Halaman Asli

Rifki Feriandi

TERVERIFIKASI

Open minded, easy going,

Dia yang Membuat Nyaman, Selalu akan Menjadi Pilihan

Diperbarui: 4 September 2023   21:50

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Palmerah | Dokpri

Tanyakanlah tentang perjalanan berkereta kepada si Ayah satu ini, maka akan kau dapati sebuah cerita seru.

KALA ITU


Naik ke dalam kereta untuk berangkat kerja, bersamaan dengan berbagai lapisan masyarakat, dalam gerbong yang eksotis minimalis: jendela sedikit, cahaya temaram, disirami berbagai jenis harum-bau. Jika beruntung, perjalanan akan diiringi petikan gitar dan suara merdu, sambil tangan sibuk memilih mangga madu.

"Obral, dijual murah. Sepuluh ribu dua kilo. Ayo...ayo".

Oh tidak lengkap dong jika perjalanan tidak bersauna. Karena sepanjang gerbong eksotis itu adalah sauna.

Mau cerita lain yang memacu adrenalin?

Gak usahlah diceritain adrenalin kucing-kucingan dengan kondektur biar gak bayar tiket. Gak seru itu. Kalah seru dengan naik kereta. Bukan ke dalam tapi naik lagi ke ATAP kereta. Serasa naik kereta double decker gitu. Full AC alami. Penuh kreatifitas lagi, karena naiknya pun tidak perlu pake tangga. Cukup memakai injakan yang ada. Iya, jendela. Adrenalin terpacu ketika tanpa sengaja menginjak badan atau tangan penumpang yang lagi bengong di jendela. Untung yang diinjak bukan kepala.

Padahal di posisi atap kereta itu, kadang dan pernah tercipta adrenalin to the max: penumpang tersengat listrik tegangan tinggi yang tidak sengaja terpegang. Sudahlah. Wassalam. Gosong.

Dan tentu saja, kadang kita jadi serasa pemain Indiana Jones, ya filem sekelas Mission Impossible sekarang gitu. Ketika demi terangkut kereta, kita hanya mengandalkan pijakan satu kaki saja. Catat: SATU kaki. Dan itu pun hanya ujung kaki. Dengan lokasi di mulut pintu kereta. Cocok lah untuk jadi pemain akrobat. Selain kakinya harus kuat, tangan pun tentunya dipaksa kuat memegang apa yang bisa dipegang. Belum ditambah dengan kemampuan "nyingcet" atau berkelit untuk menghindari tubrukan dengan tiang-tiang listrik yang berdiri di pinggir rel. Salah kalkulasi, wassalam juga.

Ah, mana generasi sekarang ngalamin keseruan seperti ini. Tidak salah, jika generasi kami menjadi generasi paling bahagia, karena sebagai anak tahun 90an, kami menjalani hal itu. Beneran.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline