Lihat ke Halaman Asli

Ridhwan EY Kulainiy

Hidup untuk berpengetahuan, bukan berdiam diri dalam ketidaktahuan oranglain

Koffie Drinken 9: Kegalauan Hatta

Diperbarui: 20 Juli 2020   13:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Rotterdam Postcard 1921, sumber : Monkbarns

Pada Mei 1921, Hatta menempuh ujian penghabisan di PHS dengan baik. Di antara murid yang diuji, 21 yang lulus termasuk Hatta dan ada 3 orang yang gagal. 

Hatta masuk ke dalam peringkat ketiga, sementara peringkat pertama adalah Leo David Richard yang bersama dengan Hatta langsung meneruskan pendidikan ke Handelshogeschool di Rotterdam. 

Bung Hatta agak telat mendaftarkan beasiswa bagi dirinya, sementara Mak Etek Ayub yang selama ini membiayai pendidikan dan biaya hidupnya tengah di penjara karena terlibat kasus perdagangan spekulasi yang akhirnya membuatnya memiliki hutang cukup besar. Namun ketika istrinya menjenguk, ia selalu menitipkan pesan agar Hatta tetap melanjutkan pendidikannya.

Di waktu itu hubungan dagang mulai terbuka kembali sesudah terhenti di masa perang. Banyak sekali pemintaan dari kantor perniagaan dan pelayaran akan tenaga-tenaga baru tamatan HBS atau PHS. 

KPM saja membutuhkan kira-kira 60 orangpemuda, sedangkan HBS dan PHS tidak dapat menghasilkan lebih dari 50. Gaji permulaan ditawarkan f 350 sebulan, sedangkan tiap-tiap tahun akan menerima gratifikasi sebanyak enam bulan gaji. 

Suatu boomperiode. Masa luar biasa, dimana anak muda berumur18 sampai 20 tahun sudah dapat menerima gaji f 525 sebulan. Sedangkan seorang guru MULO yang baru datang dari Nederland saja hanya mendapatkan gaji f 300 sebulan.

Hatta mengalami keraguan, apakah ia harus melanjutkan pendidikan atau bekerja terlebih dahulu setahun untuk mengumpulkan modal untuk selanjutnya melanjutkan pendidikan ke Rotterdam. 

Ia sempat menemui beberapa orang untuk meminta pendapat, kepada Direktur PHS Tuan Stigther, kepada guru Bahasa Belanda Tuan Kerdel, guru Perhubungan Dagang Tuan Broekhuizen, guru-guru Pelajaran Kimia, dan Pengetahuan Barang Dr. De Kock, ke semuanya memiliki pendapat yang berbeda. 

Beberapa menyarankan agar Hatta turun ke dunia praktek perdagangan terlebih dahulu, sebagiannya lagi menyarankan agar Hatta mengedepankan pendidikan selagi muda. Mendengar nasihat Dr. de Kock, niat Hatta untuk melanjutkan pendidikan ke Rotterdam bertambah kuat. 

Setelah menghitung-hitung biaya transportasi yang dibutuhkannya untuk pergi ke Rotterdam, Hatta memutuskan untuk menemui Tuan Duyvetter, seorang pegawai Departemen Pengajaran dan Agama yang bertugas memperhatikan keadaan murid-murid sekolah menengah yang datang dari luar Betawi untuk meminta tolong kepadanya agar dapat memperoleh beasiswa di Rotterdam.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline