Lihat ke Halaman Asli

Ridha Afzal

TERVERIFIKASI

Occupational Health Nurse

Apabila Karyawan Tidak Puas dengan Pekerjaannya

Diperbarui: 9 Juni 2020   18:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karier. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Saya pernah mengalami bagaimana rasanya pindah-pindah kerja. Kepindahan saya terakhir karena saya ingin memperluas wawasan di lingkungan kerja yang berbeda. Dari Sumatera ke Jawa. 

Di Jawa pun rencana saya mau pindah lagi. Impian saya ingin ke luar negeri. Jadi kepindahan kerja saya bukan karena penghasilan, atau karena saya tidak suka dengan manajemen perusahaan, hubungan dengan sesama rekan kerja atau lingkungan kerja lainnya.

Di tempat kerja terdahulu, mayoritas rekan-rekan tidak pernah mengeluh kalau soal penghasilan. Meskipun jumlahnya tidak seberapa. Untungnya, kami dapat pondokan dan makan gratis. Ini membuat kami sangat terbantukan. 

Kami tidak perlu keluar uang untuk kontrak kamar, transport dan makan. Jika diuangkan jumlahnya lumayan. Bisa mencapai Rp2 juta lebih. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran kami. Rekan-rekan kerja juga sangat kooperatif. Nyaman jika diajak kerjasama. Beban kerja menurut saya menengah. Tidak berat, juga tidak ringan.

Saya bekerja sebagai perawat, stand by 24 jam di sebuah lembaga pendidikan Islam di Aceh. Di tempat kerja dulu, dalam artian ilmu agama, kami dapat. Soal pengalaman, memang beda dengan kerja di rumah sakit. Karena itu dari awal, hemat saya kerja di lembaga seperti ini tidak bisa berlama-lama. 

Bagi saya yang penting punya pengalaman kerja aja dulu, merasakan beban kerja, serta bagaimana rasanya punya tugas dan tanggungjawab. Sesudah itu, saya harus pindah.

Akan halnya rekan-rekan kerja divisi lainnya, sebenarnya tidak banyak yang pindah kerja atau mengeluh karena beban atau jenis pekerjaannya. Kalau yang mengajukan berhenti, memang ada beberapa, khususnya cewek yang akan berkeluarga. 

Kami memahami, karena tidak mungkin mereka tinggal di asrama. Mereka pasti, antara akan ikut suami, atau bisa juga tidak diizinkan oleh suaminya untuk bekerja.

Menyimak berbagai fenomena kepuasan kerja yang dialami oleh teman-teman kuliah yang relatif baru, kalaupun langsung kerja, pengalaman kami rata-rata masih di bawah lima tahun. 

Mayoritas teman-teman kuliah belum mendapatkan pekerjaan yang mapan dengan upah cukup. Jadi, jangankan bicara soal kepuasan kerja, untuk mendapatkan tempat kerja sesuai profesi saja tidak gampang zaman sekarang.

Hanya saja, dari obrolan di medsos, kebanyakan yang kami bicarakan adalah soal besarnya upah yang mempengaruhi kepuasan kerja. Dari beberapa senior yang punya pengalaman kerja antara 5-10 tahun, pertimbangan lainnya adalah kenyaman kerja. Misalnya lokasi, jarak, budaya yang berbeda ikut berpengaruh. Sebagian lagi yang sering pindah-pindah kerja bisa disebabkan oleh karakter supervisor. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline