LUAR biasa. Sekali menulis di Kompasiana, saya langsung didapuk menjadi kontributor tetap. Kok bisa? Bagaimana? Dimana? Mau tahu ceritanya ? Melalui tulisan ini, saya ingin menyampaikannya langsung kepada teman-teman Kompasianer.
Awalnya saya nggak hobi banget atau bahkan nggak melirik nulis di blog. Apa untungnya sih, bergabung dengan sebuah komunitas media warga? Apa untungnya join di Kompasiana? Itu yang semula ada dalam pikiran saya ketika melihat banyak orang yang membuat akun, kemudian keranjingan membuat artikel, memposting tulisan, dan menampakkan rasa bangga saat tulisannya tayang di Kompasiana.
“Kalau kamu ngaku beneran bisa nulis, coba tulis di Kompasiana,” kata Ahmad, seorang kawan saya.
Apa Bedanya Kompasiana Dengan Yang Lain?
MENDENGAR ucapan teman mengenai Kompasiana, saya diam saja meski tak urung secara diam-diam juga mencari tahu apa sih kelebihannya Kompasiana sebagai media warga (Citizen Journalism). Buat saya, awalnya, kalau memang berniat jagoan menulis, ya di media blog atau website pribadi pastinya lebih mengena kepada sasaran yang dituju. Apalagi, saat ini banyak sekali bermunculan media-media warga yang penulisnya cukup tidak jelas dalam memberikan asal sumber bahan artikelnya.
Bahkan secara jelas, di bagian bawah setiap artikel tertulis dengan keseluruhan huruf besar: KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
Nah, jika berarti setiap konten yang dibuat adalah tanggung jawab penulis bersangkutan, berarti Kompasiana tidak bertanggung jawab atas keasbsahan yang ada. Bagaimana jika yang artikel yang dibuat hanya berupa plagiat, copy paste, dan sekedar asal mengarang saja? Bukannya malahan menyesatkan?