Lihat ke Halaman Asli

AHMAD RAEZA ZULFI

MAHASISWA UNIVERSITAS NEGERI MALANG

Pelemahan Kurs Rupiah yang Perlu Diantisipasi

Diperbarui: 7 November 2022   15:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Databoks

Nilai tukar rupiah dan berbagai mata uang negara lainnya terus melemah terhadap dollar AS. Hal ini dipicu oleh menguatnya dollar AS seiring terjadinya capital outflow atau pelarian modal dari negara-negara berkembang ke pasar keuangan AS. Pelaku usaha dalam negeri perlu mengantisipasi dampak pelemahan nilai tukar rupiah.

Mengutip kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, nilai tukar rupiah dibandingkan dollar AS pada perdagangan Senin (17/10/2022) ditutup pada level Rp 15.480. Nilai tukar rupiah telah terdepresiasi 8,53% dibandingkan posisi 31 Desember 2021 yang berada pada level Rp 14.263.

Banyak mata uang lainnya yang juga melemah terhadap dollar AS. Mengutip Reuters, mata uang ( Yen) Jepang contohnya terdepresiasi 29,2 persen sejak awal tahun hingga 12 Oktober 2022. Mata uang ( won ) Korea Selatan telah terdepresiasi 21,27% sejak awal tahun hingga 14 Oktober 2022. Depresiasi nilai mata uang juga dicatat negara tetangga ringgit Malaysia sebesar 12,7%  sejak awal tahun hingga saat ini.

Dihubungi Senin (17/10/2022), Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS disebabkan pasokan dollar AS di dalam negeri tengah berkurang. Hal ini dipicu oleh aksi pelaku pasar yang ramai-ramai melepas aset dalam rupiah dan mengalihkannya ke aset berdenominasi dollar AS karena menilai aset berbasis dollar AS lebih aman di tengah ancaman resesi ekonomi global.

”Kekhawatiran pada ancaman resesi ekonomi global mendorong pelaku pasar mencari aset yang aman, salah satunya adalah dengan memegang dollar AS,” ujar Bhima.

proyeksi pertumbuhan ekonomi global


Selain itu, menyimpan aset dollar AS di tengah lonjakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves (The Fed) dinilai pemodal juga menjanjikan imbal hasil yang lebih menguntungkan. Risiko pun lebih kecil ketimbang menyimpan aset di negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal ini akhirnya mendorong investor menarik uangnya dari Indonesia dan menempatkannya di pasar keuangan AS.

Hal sama juga dikemukakan oleh Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Haryadi Sukamdani. Ia mengatakan, sejatinya indikator perekonomian Indonesia dalam kondisi baik sehingga pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dipicu faktor global.

”Jadi, ini lebih karena dollarnya yang menguat terhadap mata uang lain, bukan rupiah yang melemah,” ujar Haryadi saat dihubungi Senin.

Rentenan dampak

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline