Secara diri pribadi saya sendiri ruang publik tidak harus dibangun dengan konsep yang mengedepankan pada konsep modernitas semata tetapi memiliki kandungan lokal kultur yang dilestarikan dan dikembangkan yang dapat dinikmati bagi para pengunjung yang merasakannya. Hal ini dapat dibuktikan dengan Benteng Fort Oranje.
Benteng Fort Oranje merupakan benteng terbesar yang berada di kota Ternate. Benteng Fort Oranje adalah bentuk peninggalan penjajahan yang dibangun oleh Belanda. Saat ini, Taman Benteng Fort Oranje menjadi destinasi tempat wisata yang dapat dinikmati bersama keluarga
Di depan benteng tersebut juga dibuatkan taman yang indah oleh pemerintah kota Ternate. Berbagai fasilitas tersedia di sekitar Benteng Fort Oranje karena lokasinya yang terletak di pusat kota, seperti pertokoan, perkantoran, pasar, terminal, masjid, rumah sakit yang menjadikan ruang publik ini dapat dinikmati bagi para pengunjung setiap hari.
Terinspirasi bagi saya sendiri, model Benteng Fort Oranje merupakan ruang publik yang dapat dinikmati pengunjung dengan memiliki nilai sosio historis edukatif. Mengingat hasil peninggalan sejarah lokal dapat dikembangkan menjadi sebuah ruang publik yang dapat dijadikan sebagai wahana edukatif terhadap historis dan nilai rekreatifpun juga ada. Ada sense yang dapat dirasakan dan dinikmati sebagai wahana edukatif agar masyarakat tidak lupa pada sejarah.
Oleh karena itu, perlu bagi pemerintah daerah di setiap daerah di Indonesia untuk mengembangkan peninggalan artefak historis yang dimiliki disetiap daerah yang dapat diakses dan dinikmati bagi para pengunjung sekitar dengan gratis. Mengingat peninggalan artefak sejarah memiliki nilai lebih terhadap tata ruang kota. Dan ingat dengan kata-kata Bapak Ir. Soekarno, “JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H