aku masih betah membacamu
lewat hujan yang turun semalaman dan tak memberi jeda untuk bulan
lewat dingin angin yang menguliti kehangatan yang kujaga dalam balutan sweater lusuh
lewat pikir yang berseliweran menyandera bola mata tuk tetap berjaga
ya, aku masih betah membacamu
lagi lewat surya yang sinarnya menggelitik pahaku dari kisi-kisi jendela kamar
lagi lewat aroma kopi hitam yang kuseduh sebelum membasuh wajah
lagi lewat detak detak bunyi jarum bekker yang berputar selangkah selangkah
aku masih betah
mungkin akan selalu betah membacamu