Lihat ke Halaman Asli

Repa Kustipia

TERVERIFIKASI

Gastronomist (Gastronome)

Petani Gurem dan Kaum Proletar Masih Tertindas, Kembali pada Urgensi Ideologi Marhaenisme Ajaran Bung Karno

Diperbarui: 8 Januari 2023   13:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber Gambar: dutanusantaramerdeka.com

Bung, lihatlah sistem pangan yang berdampak dengan harga pangannya yang ugal-ugalan, setiap mendekati hari-hari besar harga pangan sepertinya akan mengikuti merayakan meriahnya hari besar, harganya tiba-tiba naik drastis, kadang anjlok sekali, kadang hilang, kadang dibatasi, kadang terbuang sia-sia karena bertarung dengan komoditas super dari negara lain yang harganya lebih murah.

Itulah sekelumit keluhan orang-orang yang bertumpu pada sektor pangan dari skala individu sampai pasar besar dan global. 

Apa yang harus dilakukan ketika situasi kebutuhan paling dasar saja sudah tidak terjangkau oleh beberapa individu? Sedangkan permasalahan kesehatan dari usia bayi baru lahir hingga lansia selalu hadir entah itu tercatat secara historis tentang riwayat kesehatan atau penyakit baru yang langsung menyerang karena terlambat mengisi perut dari meriahnya slogan Indonesia Kaya Akan Sumber Daya Alamnya, namun apa hasilnya? 

Setidaknya kata gizi seimbang itu hak setiap individu menikmati karbohidrat, protein hewani dan nabati termasuk vitamin dan mineral dari tanah pertanian Indonesia. 

sumber gambar: dok.pribadi (bertani turun-temurun)

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah petani dan kaum buruh (proletar) yang bekerja dari rangkaian sistem pangan bahkan ada yang bertahan menyeimbangkan hilirisasi sistem pangan (suatu strategi untuk meningkatkan nilai tambah komoditas yang dimiliki). 

Bukan tidak ingin berganti pada pekerjaan modern seperti : analis data digital, analis big data, digital marketing, live streamer toko online, namun bertani adalah bagian dari hidupnya yang ditentukan dengan geografis yang ditinggali, namun apresiasi dari institusi tertinggi terhadap petani dan buruh tani masih belum merata dan setara. 

Bertani bukanlah pekerjaan administratif yang perlu banyaknya tanda tangan sana-sini, namun bertani itu mengerjakan langkah-langkah yang bersinergi dengan ekosistemnya dan itu memerlukan waktu jika tidak didukung peralatan pertanian modern dan Sumber Daya Manusia yang terlatih yang mengerti alat berat pertanian. Di Indonesia bertani masih didominasi oleh bertani secara tradisional dengan kondisi ekologi masyarakat yang masih berbudaya yang menghargai dan menikmati setiap fase bertaninya. 

Menelusuri kata petani, sebenanya pada tahun 1952 Petani merupakan akronim yang diberikan Bung Karno (Presiden Pertama RI) yaitu : Penyangga Tatanan Negara Indonesia

Petani Gurem 

Rasanya, tidak perlu dengan definisi yang terlampau ilmiah yang sulit diartikan, petani gurem (kbbi) adalalah Petani kecil (biasa memiliki lahan kurang dari 0,25 ha). 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline