Lihat ke Halaman Asli

Rendy Febrianto

Mahasiswa Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung

"DESAK ANIES" Jadi Celah Blunder Anies?

Diperbarui: 12 Desember 2023   13:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Analisis Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Ajang berbincang dan beradu gagasan ini di rancang team sukses AMIN (Anies-Muhaimin) sebagai wadah berbincang dan membedah gagasan serta menyampaikan masalah dan isu lokal dan nasional yang dirasakan pemuda pemudi indonesia. Acara  ini menjadi salah satu alat kampanye AMIN untuk menunjukan kapabilitas mereka sebagai Paslon yang dapat di andalkan. Forum diskusi ini juga adalah sebuah program yang di pelopori oleh Ubah Bareng, yaitu wadah bagi para relawan pendukung Anies-Muhaimin yang tak lain berisi pemuda pemudi generasi millenial dan Gen Z. Forum Desak Anies ini sudah diselenggara di beberapa tempat seperti Bandung, Jakarta, Banjarmasin hingga lampung, Desak Anies diagendakan akan hadir di seluruh provinsi di indonesia.

Namun apakah forum diskusi ini akan benar benar berjalan optimal dan sesuai harapan bagi tim kampanye AMIN?

Sejauh ini Desak Amien menjadi forum yang memperbagus citra paslon AMIN sebagai paslon yang berkapabilitas dan tidak takut "didesak" oleh argumen dan sanggahan pemuda pemudi, kesan ini dapat menggambarkan bahwa Anies memiliki gagasan yang siap didiskusikan secara langsung, sampai sampai Anies di juluki puitis karena dapat menjawab berbagai isu dan masalah terkait dengan penyusunan kata dan teknik retorika yang lugas dan jelas.

"DESAK ANIES" jadi celah blunder Anies?

Namun bagaimana jika saat forum diskusi ini Anies gagal menjawab pertanyaan atau argumen yang ditembakkan kepadanya? bagaimana jika Anies diserang dengan argumen yang ekstrim dan Anies terdiam bisu tak mampu menjawab? atau lebih parah lagi ia menjawab dengan jawaban tak berbobot dan menyuguhkan janji janji manis yang belum tentu dapat ia tepati? sungguh hal ini dapat menjadi blunder parah bagi Anies dan tentu saja bagi paslon AMIN dan seluruh relawan pendukungnya.

"Pendekatan kami kepada milenial dan generasi Z dengan cara dialogis, kami tidak ada sensor sama sekali karena memang ingin berdiskusi dua arah dengan kaum milenial dan generasi Z, Tidak ada lagi bahasa negeri konoha, yang ada ketika mau mengkritik menyebutkan secara langsung, Indonesia," tutur juru bicara Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (TIMNAS AMIN). Dilihat dari sisi bahasa, bahwa perkataan jubir TIMNAS ini mengandung sisi persuasif dan bertujuan untuk menyuarakan bahwa paslon AMIN adalah calon yang terbuka dan menerima kritikan, tanpa tindakan ancaman atau sensor. Hal ini menjadi faktor pendukung para kawula muda untuk bebas secara demokrasi menyampaikan argumen, gagasan, dan kritik tanpa perlu takut diadili di atas meja hijau, mereka bebas menyuarakan suara mereka, harapan mereka dan bahkan kritik ekstrim mereka di forum ini. 

Tentunya semua hal memiliki sisi positif atau negatif, tergantung diambil dari sudut pandang mana. Terlepas paslon yang mana yang akan terpilih kelak, kebebasan bersuara dan menyampaikan pendapat harus ditegakkan oleh paslon yang terpilih. Jangan sampai stigma para pemimpin negeri yang seakan akan tuli dari teriakan kesusahan rakyat terus berlayar, ia harus musnah dihancurkan oleh meriam armada laut yang beramunisikan kritik tajam dan solusi yang solutif dari kita semua.

Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline