Setelah sekian bulan tidak menyelam, pastinya saya kangen mengecap asinnya air laut. "Sakau" adalah istilah yang biasa saya pakai sebagai ungkapan sangat ingin menyelam (banget). Kalau sakau obat terlarang itu tidak boleh, dilarang dan bisa masuk penjara. Kalau sakau menyelam, boleh, sah-sah saja hehehe. Jiwa raga sudah sangat membutuhkan asupan "vitamin sea" (Vit C). Merasa harus bertemu dengan ikan-ikan, harus melihat nudibranch, harus mengecap asinnya air laut. Segala alasan digunakan untuk bisa segera melaut.
Bersama buddy Dewi @remora_remora kami terbang malam menuju Bali (2018.09.08. Kami akan menyelam 2 hari di Tulamben, dan 1 hari di Nusa Penida. Kakak saya yang berencana bergabung menyelam di Nusa Penida, urung karena kecapean setelah mengikuti Bali Marathon 2018.
Terakhir menyelam sudah 5 bulan lalu di Ternate, Maluku Utara (2018.03.29 -- 04.01). Sudah lama juga, pantas kangen melaut. Beberapa teman berkata kalau sepertinya sekarang saya lebih cinta gunung daripada laut. Arrrgggghhh itu tidak benar, porsi mencintai (alam) gunung sama besarnya seperti saya mencintai laut, semuanya kucinta eeeyyyaaaa.
Terbang malam dan mendarat hampir tengah malam di I Gusti Ngurah Rai Airport. Langsung menuju hotel di daerah Sanur hanya untuk "menumpang" tidur sebentar. Paginya team dari bali Fun Diving on time menjemput kami menuju Tulamben (2018.09.09). Sepanjang perjalanan kami melanjutkan tidur sampai tiba di Tulamben.
Kami menginap 2 hari 1 malam di Puri Madha Dive Resort, Tulamben. Siangnya kami langsung check dive ditemani oleh Pak Ryan. Hari ini jadwalnya adalah mengexplore sekitar USAT Liberty Ship Wreck yang terkenal di Tulamben. Posisi wreck tidak jauh dari pinggir pantai.
Ini adalah kali kedua saya menyelam di Tulamben. Pertama kali saat Desember 2013. Senangnya menyelam di Tulamben, tidak perlu naik boat. Enaknya lagi kalau menginap di Puri Madha, keluar dari kamar, melintasi halaman, sudah langsung berada di pantai.
Tulamben adalah salah satu spot favorite para penyelam Indonesia dan mancanegara. Seninya menyelam di Tulamben, perlu usaha dan energi saat water entry dan saat selesai menyelam menuju ke darat. Batu-batu hitam menjadi dasar sepanjang pantai. Baiknya mengikuti arahan guide, karena ombak bisa saja menghempas sampai ke pinggir lalu menarik lagi ke air. Ditambah alat selam yang masih terpasang di badan. Saya dan @remora_remora sempat mengalami kesulitan saat di pantai Seraya, karena kami tidak kuat bertahan dari hempasan ombak.
Kalau yang suka fotografi, disini surganya, karena bisa mendapat foto wide dan macro. Bisa menjelajah wreckship, wall yang mirip Bunaken, dan pasir tempat biota laut berukiran kecil dan berkamuflase dengan tempatnya.
Hari kedua penyelaman (2018.09.10), masih di Tulamben, ditemani dan belajar dengan Pak Cuplis, kami hunting photo underwater macro di spot Seraya dan Melasti. Suhu air selama 2 hari ini lumayan dingin, sekitar 26C, kemarin sekitar 27C. Bisa membayangkan bagaimana besok saat menyelam di Nusa Penida yang akan jauh lebih dingin. Sore hari, setelah selesai 3 dives, bersih-bersih, kami check out lalu kembali untuk bermalam di Sanur.
Hari ketiga (2018.09.11), pagi setelah sarapan kami dijemput lagi oleh team menuju Pelabuhan Sanur menuju Nusa Penida. Hari ini jadwalnya 3 dives untuk hunting ikan Mola-mola. Tetapi demi keamanan dan keselamatan karena kami punyai jadwal penerbangan besok pagi, kami hanya bisa 2 kali dari jadwal 3 dives hari ini. Dinginnya seperti yang sudah kami bayangkan dan sudah kami persiapkan. Saya dan @remora_remora siap dengan merangkap baju dengan short wetsuit, gloves, dan hood. Dinginnya nikmat, daripada panas, lebih enak dingin selama sudah ada persiapan.
Dive pertama di spot Crystal Bay, suhu air 22C. Dive kedua di Manta Point, suhu 21C, kami bertemu dengan para Manta, senang mengobati harapan bertmu Mola-mola yang belum kesampaian. Lemas deh, berarti harus balik lagi di musim Mola-mola berikutnya. Dive ketiga, kembali ke Crystal Bay, kami hanya menunggu di boat, menunggu hasil penyelaman teman-teman yang lain. Suhu di air 16C, dinginnya hmmmm tetapi sang Mola tetap tidak tampak terlihat.