Lihat ke Halaman Asli

Wiselovehope

Desainer Komvis dan Penulis Lepas. Unik, orisinal, menulis dari hati.

Bagaimana Penulis Seharusnya Bersikap, Tak Hanya Santun dalam Tulisan!

Diperbarui: 23 Januari 2023   12:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi via Pixabay

Banyak penulis hanya berusaha tampil 'manis' dan menarik saat menuliskan kisah fiksi maupun karya literatur non fiksinya. Padahal tanpa disadari atau diinginkan, sama seperti selebritis, penulis juga kerap disorot lewat kesehariannya, lho.

Bukan tampang alias rupa atau update media sosialnya saja, melainkan berbagai hal berikut ini.

1. Caranya membawa diri. Penulis yang sudah merasa sukses, berpengalaman, pernah masuk ke ranah impian seperti diterbitkan bukunya, menang lomba/kompetisi dan lain-lain hendaknya tetap ingat pada masa-masa sukar merintis atau awal perjalanan, tetap mampu menjaga sikap dan kesantunan. Jangan sampai merasa kepala sudah di atas awan.

2. Caranya berinteraksi dengan sesama penulis, kata-kata lisan, tindakan dan sebagainya. Penulis yang hanya mau jadi mahaguru mengajari penulis pemula atau calon penulis misalnya, kadang tidak mau didebat atau dibantah karena merasa sudah lebih berpengalaman. Lebih baik walau sudah lebih senior, tetap mau membuka hati dengan penulis baru/junior. Mau berdialog atau menerima saran/berinteraksi dengan seimbang, tidak mau menang sendiri.

Kadang memang penulis senior melakukan humble bragging. Sebenarnya tidak masalah jika bermaksud memberi inspirasi atau kesaksian, asal jangan hanya demi motivasi bisnis atau iming-iming uang saja (ala SPG dengan janji-janji manis dan rayuan agar mau mengikuti jejaknya dengan menggampangkan segala sesuatu): Nanti dibantu! Nanti dapat bonus! Nanti dimasukkan ke beranda! Dan lain sebagainya.

Ingatlah, menulis bukan hanya masalah pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan ekonomi. Kita bekerja dan berkreasi untuk keabadian.

3. Caranya berkomunikasi dan berinteraksi dengan pembaca dan penggemar. Ada penulis yang membumi sekali dan bisa dimintai saran kapan saja oleh pembaca dan penggemar yang berusaha untuk mengikuti jejak, namun ada juga yang baru sukses sedikit kemudian tanpa sadar menunjukkan arogansi. Semoga tidak terjadi, karena penulis yang arogan atau tidak bijak mengeluarkan kata akan mengecilkan hati dan memukul mundur semangat para calon penulis lainnya.

"Bagaimana bisa menjadi teladan, jika kata-katanya saja kurang elok dan layak dibaca dan didengar?"

Semoga bermanfaat.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline