Lihat ke Halaman Asli

Wiselovehope

Desainer Komvis dan Penulis Lepas. Unik, orisinal, menulis dari hati.

Naiknya Cukai Rokok, antara Darurat Kesehatan dan Adiksi

Diperbarui: 5 November 2022   07:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi via Cleveland Clinic

Rokok adalah sebuah momok bagi yang tidak merokok dan tidak suka pada asap rokok. Kadang para perokok sudah sedemikian terbelenggunya pada cancer stick (istilah orang bule) ini hingga tak bisa lagi move on. Sudah janji tobat, sebulan dua eh balik merokok lagi. Bagi yang tidak merokok dan tidak suka merokok, tentunya senang dan bersyukur jika ada anggota keluarga yang bertobat. Namun jika tobatnya tidak awet alias tergoda lagi, ya sama juga bohong.

Kata mereka, tak merokok, mulut asem. Atau "Merokok tak merokok juga sama aja, semua orang pasti mati," kasarnya 'sih begitu.

Naik kendaraan umum, hampir selalu ketemu orang merokok entah sopir atau penumpang. Sejak pandemi Covid-19  syukurlah agak berkurang karena semua wajib pakai masker. Eh, sekarang mulai kumat lagi! Alhasil, penulis memutuskan untuk pindah ke angkot lain.

Jika masuk ke minimarket, penulis sering bertemu orang membeli 'Super'. Tanpa perlu sebut merek, kasir sudah tahu rokok apa yang dicarinya itu, Anda juga, 'kan?

Sudah saatnya adiksi toksik ini mulai perlahan-lahan dipatahkan. Cukai rokok yang tinggi mulai diberlakukan, mungkin bisa membantu. Namun bagi yang berduit atau merasa naik berapapun harga nantinya gak masalah, mungkin akan selalu bolak-balik juga. Alias terjadi beli tak beli namun pasti beli lagi.

Usaha terpenting untuk berhenti merokok adalah niat. Nothing less, nothing more. Ingatlah jika harga sebatang rokok bisa semahal sebutir telur, bahkan lebih.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline