Lihat ke Halaman Asli

Rahmi Yanti

Mahasiswa

Kabut Hitam di Hidup Zulaiha

Diperbarui: 17 Agustus 2024   20:21

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Id. Pinteresr Indonesia

Zulaiha, waktu nongkrong di kafe dengan teman-teman. Darahku mendidih. Bagimana tidak? Sewaktu aku dan teman- teman nonkrong membentuk sebuah lingkaran di kafe itu. Aku mendengar dan melihat sendiri kelakuan teman yang kau anggap baik sekali. Kau tahu apa yang dia sampaikan tentang dirimu? Dia bilang kau sudah mati rasa, bahkan yang paling parah dia bilang kau perempuan begok yang larut dalam perasaanya sendiri. Dia bilang kau sudah lupa hidup, sehingga tak ada  yang tersisa darimu kecuali denyut nadi dan tulang belulang yang rapuh.

Awalnya aku biasa saja, namun saat dia bilang bahwa kau depresi karena ditinggal nikah seorang pria brengsek bernama Tigor, api membara di kepalaku, seolah sudah memanaskan seluruh keringatku. Bagaimana mungkin darahku tidak mendidih Zulaiha? aku kenal betul pada Tigor, dia bukan laki-laki brengsek! Seperti yang dituduhkan musuh dalam selimutmu itu. Aku juga mengenalmu Zulaiha, kamu tidak mungkin punya hubungan  dengan Tigor kan? Bukankah kamu tahu, kalau Tigor sudah menikah? Apalagi kamu tahu betul, bahwa aku dan kamu pernah saling memadu kasih. Kamu tak mungkin melupakan aku secepat itu kan?

Kutumpahkan segelas kopi yang masih panas ke baju gadis itu. Aku peringatkan dia untuk tidak bicara sembarangan tentangmu atau Tigor. Suasana menjadi tegang.

Perempuan itu histeris, dan teriak sambil berkata dengan keras kalau aku pemuda gila. Aku tak peduli Zulaiha, aku segera pergi dari tempat itu. Masuk kedalam mobil Honda Brio berwarna putih milikku dan mengendarinya di tengah rintik hujan yang amat sendu.

Zulaiha, kamu dimana? Sudah 6 bulan kamu tak kelihatan. Nomor whattsapmu juga selalu centang satu. Instagrammu tak seaktif dulu lagi, postingan-postingan di akunmu sudah bersih. Poto profilmu sudah berganti menjadi gambar kupu-kupu. Tiap hari, aku memantau akunmu di media sosial berwarna magenta itu. Aku juga selalu, melihat notif whatsappku. Mana tahu, sewaktu-waktu kau membalas pesanku. Namun, sudah 6 bulan Zulaiha, sudah beratus bahkan mungkin sudah beribu pesanku, kau tetap ceklis satu. Apa nomormu sudah kau ganti? Kalau iya, kenapa kau tak memberi tahuku?

Aku benar-benar merindukanmu. Karena itu, sewaktu aku melihat Jumi datang ke tongkrongan. Aku curi kesempatan untuk menanyakan kabarmu. Kuira dia teman yang baik  karena dia kan teman akrabmu, mungkin dia tahu dimana kau dan bagaimana kabarmu. Tapi, saat kutanyakan itu. Jawabannya malah di luar logikaku. Berkali-kali dia bilang kamu perempuan stress. Ini sangat menyiksa jiwaku. Aku tak rela, jika perempuan yang kucintai di hina dan dimaki dengan ekpresi kebencian. Apalagi di hadapanku sendiri. Meski pun, hubungan diantara kita telah lama berakhir. Namun cintaku tetap utuh untukmu Zulaiha.

Diperjalanan pulang, saat melewati sebuah gerobak nasi goreng kulihat sahabatmu yang lain sedang memakan nasi goreng bersama Gino. Sahabatmu itu adalah Zahra. Ku hampiri mereka dan kutanya tentang keberadaanmu. Karena, aku pun sudah pernah menghampirimu ke kosmu. Tapi, teman-teman kosmu bilang, selama 6 bulan terakhir kamu tak pernah ke kos itu lagi. Bahkan, aku sudah ke kampungmu. Tapi, tak ada yang mengenal dirimu. Meksipun poto cantikmu sudah kutunjukkan.

Zahra begitu kaget melihatku Zulaiha. Begitu juga Gino. Mereka lalu berbasa-basi dengan menanyakan kabarku. Tapi, aku tak mau basa-basi. Aku ingin tahu dimana keberadaanmu. Langsung kutanya apa mereka tahu kamu dimana? Zahra terdiam dan menunduk. Lalu, ia tatap wajah kekasihnya Gio. Dari wajah kedua kekasih itu, jelas aku tahu kalau mereka tahu keberadaanmu.  

Lalu, Gio berkata kepada Zahra. Sudah saatnya aku tahu. Dalam benakku, apa yang sebetulnya kalian sembunyikan dariku? Dengan perlahan Zahra bercerita kalau kau sekarang sedang di rumah sakit jiwa. Dia bilang, ibu tirimu telah mengaggapmu gila dan membawamu ke rumah sakit jiwa. Bahkan Ketika kamu sudah teriak-teriak kepada ayahmu bahwa kamu waras dan masih berpikir jernih. Tapi kamu tetap dibawa kesana. Zahra juga cerita bahwa selama dua tahun memadu kasih denganku kau sebetulnya tak mencitaiku. Kau dan Tigor sebetulnya saling mencintai. Kalian sudah saling kenal bahkan jauh saat aku belum masuk dikehidupan kalian berdua.

Zahra cerita, setelah musibah bernama covid-19 memisahkanmu dan Tigor. Sehingga, selama dua tahun kalian tak pernah jumpa. Lalu, saat kalian dipertemukan lagi di kampus. Rasa-rasa dianatara kalian muncul kembali. Namun, karena aku sudah terlanjur mengatakan ke Tigor bahwa kamu adalah sasaranku. Tigor menjadi diam dan berlagak seolah tak mengenalmu. Zahra dan Gino bilang, kalau kau menerima cintaku dua tahun lalu juga karena paksaan dari Tigor. Ditambah orangtua Tigor telah menjodohkannya dengan seorang perempuan berjilbab panjang anak  seorang Kyai.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline