Lihat ke Halaman Asli

Rahmi Yanti

Mahasiswa

Besok Pesta Demokrasi

Diperbarui: 13 Februari 2024   20:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Freepik

"Memangnya kenapa kalau aku golput? Itu sama aja kan. Siapa pun prisidennya.  Yang sengsara pasti rakyat kaya kita" ucap seorang laki-laki paruh baya. Selama hidupnya,  ia hanya pernah mencoblos sekali saja. Padahal, sudah beberapa kali pergantian presiden. 

"Ada dong Kek, satu suara dari kita itu bisa menentukan masa depan bangsa lima tahun ke depan " Sahut Asrul. Cucu laki-lakinya yang berusia 21 tahun. 

"Kamu anak muda mana tahu apa-apa. Kakek sudah merasakan bagaimana pemilihan umum itu. Kecurangan dimana-mana. Politik uang beredar. Termasuk fenomena pendukung antar paslon yang saling menjatuhkan satu sama lain. Sehingga, membuat Kakek muak dengan drama politik itu" 

"Itu dia Kek, makanya kita perlu untuk riset dan pelajari paslon mana yang harus kita pilih. Biar gak asal pilih"  kata Asrul lagi.

"Srul, Kamu masih bocah kemaren.  Kakek tahu bagaimana permainan politik di luar sana. Bagaimana pun kamu meriset, belajar tentang berbagai paslon. Nyatanya, siapa pun yang menang. Mereka bakalan berbagi kursi di atas sana. Sedangkan, rakyat biasa seperti kita hanya dimanfaatkan untuk memenangkan mereka. Huuu... Kakek tidak mau itu"

"Kek, kalau pikiran kakek kaya begini. Bangsa ini kapan majunya?" ucap Asrul. 

"Kamu anak muda sok tahu!"

"Kakek yang sulit mengerti"

"Halahhh... jangan-jangan kamu memang di kasih uang sama caleg. Ngaku aja!" 

"Kek, Asrul cuma mau ngasih tahu. Kalau golput itu gak baik. Suara kakek itu sangat menentukan siapa yang akan memimpin kita. Pantasan, negara kita gini-gini aja. Ternyata ada yang berpikir seperti kakek" 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline