Lihat ke Halaman Asli

Rahmi Yanti

Mahasiswa

Insting

Diperbarui: 20 Januari 2024   21:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Galeri Pribadi

"Udah sampai mana, bimbinganmu?" Tanya wanita cantik itu.  Ia membuka kacamatanya, lalu kulihat di lapnya dengan sebuah kain, sambil duduk di sampingku.  

"Masih disitu-situ aja Dan, doain yah. Biar cepat. Kamu gimana?" Jawabku. 

"Aamiin, kalau Aku sih Insya Allah segera daftar sempro. Doain yah Mi" ucapnya padaku. 

Itu percakapan kami terkahir, waktu itu kami bertemu di fakultas, tepat di ruangan prodi. Kami sedang memantau kehadiran dosen yang kami tunggu-tunggu. Maklum, bagi mahasiswa dosen itu lebih dari sekedar artis. Mungkin mereka lebih seperti dewa, yang diagung-agungkan dan dikejar-kejar para pemujanya.  Apalagi yang kami cari-cari adalah pembimbing.  Kami rela menunggu dari pagi buta, sampai adzan magrib berkumandang, demi menemui orang penting . Apalagi alasannya?  tentu saja, itu semua agar masa skripsian ini selesai.  

Jumat sore, setelah pembekalan  magang, Aku bertemu dengan gadis cantik itu lagi. Ia tersenyum lebar, tulus sekali senyumannya. Cantik, dan membuat mataku yang melihatnya terngiang-ngiang akan parasnya. Seketika, Aku ingat hari pertama Aku mengenal gadis itu. 

Waktu itu, saat semester 2 kami sekelas. Masa itu adalah ketika kami mengikuti program ma'had (Pesantren)  kampus. Aku dipertemukan Tuhan dengannya saat Mata kuliah PKN. Waktu itu, dosen kami Pak Nasir membagi kami ke beberapa kelompok dan gadis jelita itu Menjadi bagian dari kelompokku.  Ia memperkenalkan namanya padaku, dengan tutur kata lembutnya. Saat itu, kami dibagi kelompok debat. Disana, ku sadari Dia adalah gadis yang cerdas. Buktinya, dia selalu mengusipkan balasan dari lawan debat kami kepadaku. Suaranya agak pelan, mungkin dia pemalu. Tapi, dia itu cerdas.  

Senyumnya itu juga mengingatkan Aku. Saat Aku dan dia tak sengaja bertemu di fakultas, saat itu banyak Anak laki-laki yang melihat ke arah kami. Aku tahu, mereka sedang memperhatikannya.  Wajar, selain parasnya yang cantik. Akhlak-nya juga amat baik, tutur katanya juga lembut. Katakan, siapa yang tak terpikat dengan pesona gadis seperti Dia. Aku saja seorang wanita, mengaguminya. 

Senyumnya di jum'at itu sungguh terngiang-ngiang di ingatanku. Di malam hari, tiba-tiba saja aku mengingat wajahnya. Kubuka ponselku, kucari profil instagramnya. Lalu, kutemukan  akunya yang begitu indah. Ia amat suka fotografi, Aku juga ingat, dia suka melukis. Beberapa kali, lukisannya lewat dari beranda instagramku.  Namun, dia pemalu. Setelah beberapa hari, dia akan menghapus postingan itu. Aku kagum pada sifat anggunnya. Andai saja, dia bisa menjadi teman akrabku. Aku ingin mengenalnya lebih dekat. 

Di hari jumat yang sama, satu minggu setelah senyumnyannya yang memabukkan itu. Aku masih terngiang-ngiang dengan ketulusan wajahnya.  

"Innalillahi wa innalillahi rajiun, Telah berpulang ke rahmatullah saudari kita Dani" Sebuah notif dari grup whatsap di hpku, membuat jantungku tak beraturan. Aku langsung membuka grup, kubaca keabsahan berita itu. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline