Lihat ke Halaman Asli

Nur Rahmi Midadullah

Bugis Barru-Bone

Saksi Bisu

Diperbarui: 29 Maret 2019   16:11

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokpri

Duhai rumah Allah di New Zealand sana, tempat teduh nan menentramkan jiwa. Pada hari jum'at kemarin. Kau menjadi saksi, syahidnya saudara-saudara kami.Yang berpulang dalam keadaan bersih, dalam keadaan suci dengan wudhunya masing-masing.
Tak terhitung berapa peluru, yang melesat menghujam tubuh-tubuh saudara kami.
Hebat benar orang itu, berjalan dengan angkuhnya menghunus kulit-kulit mereka menembus jantungnya, dengan puluhan peluru.

Wahai, saudara-saudara kami.
Ribuan do'a melesat lebih cepat dari peluru-peluru itu. Memenuhi langit mengantarkan kalian.
Tak terhitung berapa tetes air mata, tumpah ruah dari ribuan pasang mata, mengenang kalian.

Duhai kalian para mujahid, begitupun dengan rumah Allah yang agung.
Ada sebersit perasaan sedih yang begitu mendalam, ketika melihat Mesjid di New Zealand dipenuhi manusia yang beribadah di dalamnya, hingga ajal menjemputnya saat berada di rumah sang pencipta.

Sedang di tempat kami. Begitu banyak mesjid yang terbangun kokoh nan megah. Sayang, hanya segelintir manusia menjadikannya sebagai tempat yang wajib untuk dikunjungi.

Miris sekali, ketika mesjid di luar sana menjadi tempat istimewa selain adalah rumah Allah. Menjadi saksi, pulangnya para saudara-saudara kami yang syahid.

Meski begitu, do'a-do'a kami akan selalu mengalun dengan lembut memenuhi udara.
Disetiap sujud kami, akan selalu terselip bisikan-bisikan yang membumi namun terdengar hingga ke langit.

Karena Islam adalah satu.
Ummat Muslim, adalah tubuh yang tak terpisahkan.
Ketika, bagian tubuh lain merasakan sakit. Maka seluruh anggota tubuh merasakan akibatnya.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline