Lihat ke Halaman Asli

141). Coba Mulai Memanejemen Diri, tapi Buyar Lagi

Diperbarui: 26 Juni 2015   06:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13039362711970474992

[caption id="attachment_103753" align="aligncenter" width="300" caption="Tiap waktu adalah saatnya berubah naik dan lebih baik(google gambar) "][/caption] . . Bangun dini hari ini, tak jelas apa yang mau ditulis. Lihat tulisan teman yang terbaru muncul di dashboard, terus tertarik dengan “Adu Penalty”nya Pak Murwat. Ah sudah ada penendang(komentator) pertama, saya tambahkan satu tendangan lagi. Kebetulan saya punya teori tentang tragedi akhir bola kaki ini, yang idenya punya saya; tulisannya milik Rahayu: pemilik lapak ini sebelumnya. . . Nah saya mau tulis apa sekarang? Coba mengkursor dashboard ke bawah sekiranya ada kompasianir yang menyapa/koment saya setelah seharian lebih tak sempat eksis menulis. Nah ada satu, lagi-lagi penggemar saya (hehe, kayak Norman saja), siapa lagi kalau bukan Bu Dosen. Kami terlanjur merasa cocok. Betapa tidak dia orangnya cerdas ketemu dengan saya yang bicaranya ngawur, telmi, dan sensi(tif). Istilah penyakit terakhir ini, saya jadi ingat satu sahabat lagi. Dia terlalu ketinggian untuk saya gapai bicaranya. Maklumlah saya orangnya telmi, kan? Eh tahu apa itu telmi? Jangan bilang-bilang kalau tidak tahu ya? Itu penyakit paten saya. Sudah penyakitan dengan rasa itu, bawaannya selalu jujur mengatakan seperti itu. Hehe, tawadhulah, alias tawu diri. . . Hm, tak jadi jadi rencana menulisnya kalau begini. Bicaranya ngawur seperti ini terus sih. Nih, satu kicauan lagi. Anak saya penggila bola asyik dengan tontonannya. Ini final, apa? Katanya semi final. Ah saya punya kesempatan menarik untuk membuktikan tentang teori adu penalty saya. . . Nah, mau serius dulu ah bicaranya. . . Kemarin itu saya coba mengendalikan diri untuk mulai memanejemen waktu, kerja dan setress keprihatinan yang kerap melanda. Menulis selama ini jadi pelarian, ini perlu saya atur. Kenapa? Ini cuma permainan konsep yang perlu tempatnya berpijak di alam nyata. Berkiprah dengan karya nyata. Saya orangnya pernah kreatif habis, workholic; sekarang jadi pecandu renung dan setress. Lalu muaranya ke menulis dan diskusi ria dengan teman. Ini nggak ideal saya pikir kalau tidak dimanifestasikan dalam bentuk kerja konkret dan fakta hasil. Di situ semua pikiran kita menjelma untuk bisa dilihat, diraba, dan…diterawang? (Bussyet, ini nebak uang palsu apa?) . . Nah saya, …eh nah nah lagi(hehe dasar penulis tesis, telat search istilah); kemarin itu coba mulai konsisten mengatur waktu. Ada waktunya menulis, membaca, mengomel, kerja tugas rutin, kerja kreatif/perubahan; pokoknya wujud hari ini dan esok harus berubah lebih baik dari kemarin. . . Sayang, di setiap gerak saya; selalu membayangi konsep-konsep pikir, ide, dan setress untuk segera saya gores. Saya harus ditemani polpen dan kertas yang siap setiap saat menjadi sekret(aris) dari bludakkan uneg-uneg, gagasan dan keprihatinan yang terus nyerocos tanpa permisi. Mencari jalan keluarnya, ya maksudnya harus dicatat. Nah kapan merealisasikannya dalam bentuk karya dan kerja nyata. Akhirnya, satunya kata dan perbuatan tak pernah kompromi, setidaknya akhir-akhir ini. . . Ah, saya akhiri sampai di sini dulu bicaranya. Dicoba sekali lagi mempraktekkannya. Doakan ya? Siapa tahu berhasil. Da daa !! . . Di Timur Fajar




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline