Lihat ke Halaman Asli

Rachmat PY

TERVERIFIKASI

Traveler l Madyanger l Fiksianer - #TravelerMadyanger

Semangat 'Kaizen' Toyota Indonesia, Antara Perubahan Tiada Henti dan Membangun Budaya

Diperbarui: 23 Agustus 2016   23:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Acara Peluncuran Buku “Perubahan Tiada Henti” di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2016. (Foto GANENDRA)

Kurun waktu 25 tahun, bukanlah waktu sebentar, untuk membentuk budaya kerja yang berkualitas baik di perusahaan ternama, Toyota Indonesia. Membangun perlahan-lahan sumber daya manusia agar memiliki semangat perubahan perbaikan terus menerus, tanpa henti dan menjadi budaya dalam bekerja. Meningkatkan value, baik itu kejujuran, tak iri hati, berbagi kreativitas membangun sumber daya manusia adalah faktor utama sebelum menciptakan produk.

Toyota Indonesia berhasil mencapai sukses dengan menerapkan semangat ‘Kaizen’ dalam perusahaannya. Penerapan Quality Control Circle (QCC) dengan pondasi Kaizen, sebagai tools pengejawantahan Toyota Way mengantarkan pada tujuan dan cita-cita perusahaan.  Seperempat abad adalah waktu berharga yang terbayar lunas dengan budaya yang tertanam baik dalam ritme kinerja perusahaan hingga saat ini. Dan Toyota Indonesia tak pelit berbagi kunci sukses. Dilaunchingnya buku “25 Tahun Perjalanan QCC Toyota Indonesia, Perubahan Tiada Henti” menjadi bukti Toyota Indonesia ingin berbagi motivasi dan inspirasi ke masyarakat yang lebih luas lagi.

Berbagi Bersama Membangun Indonesia, kalimat di salah satu halaman buku. (Foto GANENDRA)

*

RUANG Ruby, lantai 7 Gedung Kompas Gramedia Unit II, Palmerah Barat, Jakarta menjadi saksi  diluncurkannya buku yang ‘tak biasa’. Buku “25 Tahun Perjalanan QCC Toyota Indonesia, Perubahan Tiada Henti” yang membahas perjalanan Toyota Indonesia dalam membangun ‘budaya kerja’ berpondasi Kaizen.  Sebuah semangat kinerja yang diterapkan di perusahaan otomotif ternama itu sejak 25 tahun lalu. Lalu apa itu Kaizen? Seperti apa semangat Kaizen diterapkan di perusahaan Toyota? Apa itu Quality Control Circle? Mengapa perlu dibukukan?

Buku Menjadi Pusat Pembelajaran   

Buku 147 halaman yang dituangkan secara ringkas dan menarik oleh jurnalis Kompas Joice Tauris Santi ini resmi diluncurkan pada Selasa, 16 Agustus 2016 di ajang Kompasiana Coverage Peluncuran Buku “Perubahan Tiada Henti.” Acara dihadiri puluhan Kompasianer, Kompas dan jajaran PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Terlihat diantaranya hadir Bob Azam selaku Direktur TMMIN, Warih Andang Tjahjono selaku Wakil Presiden Direktur TMMIN, Henry Tanoto Wakil Presiden Direktur PT Toyota Astra Motor, Abdul Mukti Suryo Hutomo selaku General Manager Press Production Sunter 2 Division, Sonny Irawan dari Productivity Quality Management Consultants, Muhammad Zuhri Bahri mewakili Kementerian Tenaga Kerja, Budiman Tanuredjo selaku Pemimpin Redaksi Kompas, Joice Tauris Santi Penulis Buku beserta 14 orang timnya dan tak ketinggalan Pepih Nugraha selaku COO Kompasiana.

Para narasumber di acara Peluncuran Buku “Perubahan Tiada Henti” di Jakarta, Selasa, 16 Agustus 2016. (Foto GANENDRA)

Acara yang dipandu oleh Cindy Sistyarani presenter Kompas TV, diawali dengan sambutan dari petinggi Kompas dan Toyota Indonesia. Komentar tentang pentingnya peran buku bagi sebuah bangsa digambarkan dengan lugas oleh Budiman Tanuredjo. Pimred Kompas itu menyebutkan bahwa buku sangatlah penting. Ia mengutip kata-kata dari penulis, novelis dan aktivis Milan Kundera dari Ceko, yang mengatakan makna sebuah buku.

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya, maka pastilah bangsa itu akan punah,” kata Budiman.

Buku bisa mengubah tradisi lisan, praktik, dicatat, ditulis dalam proses terjadilah pelajaran horisontal. Buku yang mencatat pengalaman masa lalu bisa menjadi pelajaran untuk  menembus masa depan. Dalam kaitan dengan buku “Perubahan Tiada Henti,” menurut Budiman, bagaimana perjalanan Toyota dalam 25 tahun menjadi amat penting. Apa yang dijalani Toyota selama 25 tahun menjadi tempat belajar dari nilai-nilai yang selama ini dipraktikkan Toyota. Buku jadi pusat pembelajaran, sentral pembelajaran.

“Apresiasi bagi Toyota yang mau berbagi tidak untuk Toyota sendiri. Ketika ditulis jadi milik bangsa,” kata Budiman yang disambut tepuk tangan.

Budiman juga menyoroti pentingnya perubahan terus menerus menjadi kebiasaan dan budaya. Ia mengilustrasikan bagaimana perbandingan Indonesia dengan Korea Selatan/Korsel yang merdeka pada 15 Agustus 1948 dikaitkan dengan Indonesia yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Pada posisi sekarang Korsel dan Indonesia begitu jauh.  Produk Korsel menembus Indonesia, sementara orang Indonesia tak bisa menembus Korsel. Itu berkaitan dengan budaya. Faktor budaya menjadi penting, termasuk budaya kerja, kejujuran, tak iri hati, berbagi kreatif itu menarik.  Menurut Budiman, melalui buku-buku itulah bisa sama-sama belajar. Bangsa ini bisa belajar. Hari esok harus lebih baik dari kemarin.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline