Lihat ke Halaman Asli

PUTRI CEMPAKA S

Saya adalah Mahasiswa di Universitas Pasundan. Saya mengambil jurusan Sastra Inggris. Saat ini saya berumur 19 tahun.

"Dari Keraguan Menuju Kedamaian: Perjalanan Hidup Sebagaimana Diceritakan dalam "Atheis'"

Diperbarui: 10 Januari 2024   16:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Input sumber gambar https://ebooks.gramedia.com/ebook-covers/69071/image_highres/BLK_A2021235593.jpg

Novel "Atheis" karya Achdiat K. Mihardja merupakan sebuah karya sastra yang kontroversial dan memancing pemikiran pembaca tentang kehidupan dan agama. Buku karya Achdiat K. Mihardja ini mengisahkan perjalanan hidup Hasan, tokoh utama yang memutuskan untuk menolak agama dan menjadi seorang ateis.

Pertama-tama, penting untuk disadari bahwa "Atheis" adalah sebuah meditasi mendalam tentang konflik internal seseorang dan pertarungannya dengan cita-cita religius, bukan sekadar novel fiksi. Tokoh utamanya, Hasan, ditampilkan sebagai seseorang yang mencari tujuan hidup di luar konteks agama. Hal ini memicu pergulatan internal yang berbelit-belit saat ia mencari identitasnya dalam menghadapi gejolak kehidupan.

Dalam buku ini, Mihardja menggambarkan Hasan sebagai individu yang sensitif yang menjadi gelisah selama keyakinannya, bahkan ketika ia menghadapi kritik dari mayoritas penduduk. Kisah Hasan merujuk pada perjalanan hidup, dimulai dari kehidupan keluarga, pendidikan, dan diakhiri dengan pertarungan dengan musuh yang merongrong keputusannya untuk menjadi seorang ateis. Penulis menyajikan gambaran situasi yang realistis, menggambarkan konflik internal yang mendalam, dan perjuangan untuk mempertahankan kebebasan berpikir.

Mihardja menyelidiki tema-tema yang rumit seperti kebebasan beragama, hak untuk memilih keyakinan sendiri, dan ketegangan antara keyakinan individu dan harapan masyarakat melalui tokoh Hasan. Hasan adalah sosok yang berani menentang konvensi dan mengambil keputusan untuk hidup dengan prinsip-prinsipnya sendiri.

Pengalaman pribadi saya, saat pernah terbesit untuk menolak agama, mencerminkan kesamaan dengan kisah Hasan. Selama masa-masa sulit dalam hidup, kita sering mengalami kegoncangan dan kebingungan. Pada saat seperti itu, ide untuk meninggalkan keyakinan agama dapat muncul dalam benak Anda sebagai cara untuk mengatasi ketidakpastian dan kemurungan. Kadang-kadang kita merasa cenderung untuk meninggalkan gagasan-gagasan agama ketika kesulitan hidup menjadi terlalu berat untuk ditanggung, seolah-olah agama tidak mampu memberikan jawaban atas segala penderitaan.

Namun pada akhirnya, saya tetap berpegang teguh pada keyakinan Islam saya. Meskipun saya mempertimbangkan untuk meninggalkan agama saya, pada akhirnya saya menyerah pada Tuhan karena keyakinan saya pada ajaran Islam. Saya menemukan keberanian untuk menghadapi tantangan hidup dalam agama saya. Saya merasa ada kekuatan yang lebih tinggi yang mengarahkan dan menuntun saya, membantu saya menemukan kembali makna hidup yang sesungguhnya.

Novel "Atheis" menawarkan wawasan yang berharga tentang kerumitan jalan spiritual seseorang. Setiap orang mengalami saat-saat ketika mereka mempertanyakan apakah Tuhan itu ada atau apa tujuan hidup ini. Namun, seperti yang saya alami, kembali pada akar agama memberikan pegangan yang kokoh dalam menghadapi tantangan hidup.

Saya belajar dari membaca buku ini dan dari pengalaman saya sendiri bahwa memiliki keyakinan agama yang kuat akan memberikan dasar yang kuat untuk hidup. Menjadi religius-Islam, dalam kasus saya-bukan berarti mengabaikan realitas; melainkan berusaha menemukan kebijaksanaan dan ketenangan dalam semua perubahan yang tak terduga dalam hidup.

Novel "Atheis" menantang pembaca untuk mempertimbangkan apa artinya menjadi seorang yang beriman dan apa tujuan hidup ini. Mihardja melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam menggali lebih dalam tentang pergulatan psikologis tokoh utama, yang membuat kita mengevaluasi kembali nilai-nilai yang kita anggap remeh. Saya melihat bahwa fase ateisme saya sebelumnya hanyalah sementara, dan bahwa keyakinan religius lah yang memberikan tujuan dan panduan hidup yang esensial.

"Atheis" mengeksplorasi lebih dari sekadar perjalanan satu orang; karya ini juga menyelidiki interaksi yang rumit antara agama dan kekuasaan di masa kolonial Indonesia. Karya ini melukiskan gambaran sosial-politik yang provokatif melalui karakter-karakternya. Masalah internal dan eksternal yang dihadapi Hasan dan karakter lainnya menghasilkan lingkungan naratif yang kompleks dan penuh nuansa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline