Lihat ke Halaman Asli

Konsumsi Junk Food Serta Dampak bagi Kesehatan Tubuh

Diperbarui: 5 Juli 2022   17:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Junk food adalah makanan tidak sehat yang tinggi kalori dari gula atau lemak, dengan sedikit serat makanan, protein, vitamin, mineral, atau bentuk lain dari nilai gizi penting.

Faktor yang mempengaruhi konsumsi fast food antara lain rasa, harga, tempat yang nyaman, dan pengaruh teman sebaya. Makanan cepat saji dapat meningkatkan risiko beberapa penyakit, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan gangguan lemak darah atau dislipidemia. Obesitas atau kegemukan banyak dialami oleh anak-anak, remaja, dan dewasa.

Dari segi psikologis, remaja kurang memperhatikan faktor kesehatan dalam menentukan pilihannya. Namun, remaja lebih memperhatikan faktor-faktor lain, seperti orang-orang di sekitar mereka, budaya hedonistik, dan lingkungan sosial yang sangat mempengaruhi mereka.

Tempat yang nyaman disediakan oleh restoran cepat saji yang banyak digunakan oleh pelajar dan mahasiswa untuk mengerjakan tugas di tempat tersebut. Hal ini menyebabkan frekuensi konsumsi fast food pada remaja menjadi tinggi. 

Selain sebagai tempat yang nyaman, posisi restoran yang strategis juga meningkatkan konsumsi makanan cepat saji di kalangan remaja, seperti lokasi yang dekat dengan sekolah mereka. Tempat yang nyaman menjadi salah satu daya tarik konsumen untuk makan di restoran cepat saji.

Alasan lain makan makanan cepat saji adalah karena disajikan dengan cepat. Pada saat ini, orang menginginkan segalanya serba cepat. Oleh karena itu, kebanyakan orang terutama remaja menginginkan hal-hal yang serba cepat, seperti memilih makanan instan, baik pada saat dihidangkan maupun saat disantap. 

Remaja cenderung mengonsumsi makanan yang memiliki merek atau brand terkenal sebagai ekspresi diri dalam pergaulan dan menjadi ajang bergengsi. Hal yang menjadi trend para remaja saat ini adalah tempat makan dengan brand tersebut untuk berfoto bersama teman-temannya melalui media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa mereka pernah berkunjung dan makan di restoran dengan merek tersebut.

Pangan merupakan kebutuhan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan, begitu pula bagi remaja. Apabila remaja kurang mengkonsumsi makanan, baik dalam jumlah maupun kualitas, maka akan menyebabkan gangguan pada proses metabolisme tubuh, sehingga dapat menimbulkan risiko penyakit. 

img-20220705-174906-62c417b2297d685da430bcd2.jpg

Selain itu, jika remaja mengkonsumsi makanan berlebih tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, maka remaja akan mengalami gangguan tubuh, seperti berisiko terkena penyakit degeneratif,seperti kegemukan (obesitas),resiko penyakit kariovaskuler,kanker kolorektal,diabetes,tekanan darah tinggi,dll.

Tingkat konsumsi Junk food pada remaja saat ini relatif tinggi, dimana rata-rata remaja mengkonsumsi Junk food 3 sampai 4 kali dalam sebulan. Tanpa disadari, maraknya junk food selain berdampak positif juga berdampak negatif bagi kesehatan tentunya. Dampak positifnya dapat dibuktikan dari cara penyajian yang cepat menghemat waktu dan tidak sehat. 

Namun selain itu, perlu mencermati dampak negatif yang ditimbulkan oleh junk food misalnya meningkatnya kadar lemak dalam tubuh sehingga dapat berujung pada obesitas atau kelebihan berat badan. Kandungan junk food yang sebagian besar merupakan zat adiktif yang merugikan tubuh jika dikonsumsi secara berlebihan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline