Lihat ke Halaman Asli

Puspa Sari Dewi

A lifelong learner

Menjamurnya Nama Ilmiah Tumbuhan di Singapura. Bagaimana di Indonesia?

Diperbarui: 2 Desember 2021   12:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nama ilmiah tumbuhan (dokumen pribadi) 

Benarlah kata orang, Singapura adalah negara yang benar-benar mementingkan pendidikan. Seperti di negara besar lain, Singapura menganggap pendidikan adalah masa depan dari suatu negara untuk mencapai cita-cita mereka. Oleh karena itu, Singapura memang sangat memerhatikan bidang pendidikan ini. Mereka sangat fokus dalam pengembangan pendidikan dari jenjang pra sekolah hingga perguruan tinggi.

Salah satunya yaitu mereka sangat mementingkan tata nama biologi. Hal ini terbukti dari menjamurnya papan nama-nama ilmiah pada tumbuhan, baik tanaman yang ada di taman maupun tumbuhan liar seperti yang ada di rawa. Nama-nama ilmiah tersebut menggunakan bahasa latin.

Saat berkunjung ke taman, saya sempat mengambil foto sebelum membaca satu per satu nama-nama ilmiah tersebut.

"Coba temukan kami. Ada rempah-rempah, tumbuh-tumbuhan, dan pohon buah-buahan di taman ini." Begitulah tulisan yang tertera pada plang bagian atas dan diikuti beberapa nama ilmiah yang mana tumbuhan itu tertanam di taman tersebut.

Ada kedondong dengan nama ilmiah Spondias cytherea. Mangga dengan nama ilmiah Mangifera indica. Pandan dengan nama ilmiah Pandanus amaryllifolius. Daun kari dengan nama ilmiah Murraya koenigii, dan masih banyak lainnya.

Seketika saya teringat semasa sekolah menengah atas saat harus menghafal puluhan nama-nama ilmiah tumbuhan dan binatang. Di SMA saya pun terdapat papan nama ilmiah yang menempel di setiap batang pohon yang ada di area sekolah. Lalu ketika mengikuti ekstrakurikuler Kelompok Ilmiah Remaja, masing-masing dari kami mendapatkan nama julukan yang berasal dari nama latin tumbuhan, dan nama julukan saya adalah Asplenium nidus L. yaitu nama ilmiah dari tumbuhan paku sarang burung. Saat itu banyak sekali nama ilmiah yang saya hafal sampai di luar kepala, tetapi kini hanya beberapa saja yang masih tersisa di ingatan.

Tidak hanya di taman-taman saja, sering saya temui papan nama yang berdiri tegak di samping pepohonan yang ada di rawa. Seperti pohon jambu, pandan liar, kunyit, jahe, dan tanaman lainnya pun tertera papan nama ilmiah yang mana terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, Melayu, dan nama ilmiah tumbuhan itu sendiri.

Ada sejarahnya, mengapa penamaan hewan dan tumbuhan selalu menggunakan nama latin. Metode ini dimulai oleh ahli fisika dan biologi asal Swedia, Corolus Linnaeus pada abad ke-18. Alasan Linnaeus menggunakan dua suku kata untuk nama ilmiahnya adalah agar organisme mudah untuk diidentifikasi.

Mengutip situs Sciencing, Senin (25/11/2019), penggunaan nama ilmiah mengesampingkan fakta bahwa organise memiliki nama berbeda yang diberikan oleh penduduk di sebuah wilayah.

Bahasa Latin digunakan karena tidak berasal dan tidak digunakan di negara mana pun di dunia. Selain Latin, bahasa Yunani Kuno juga kerap digunakan untuk menamai organisme. Begitu pula bahasa kuno lainnya seperti Aztec, Mongolia, dan Xhosa.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline