Lihat ke Halaman Asli

Himam Miladi

TERVERIFIKASI

Penulis

Pak Jokowi, Tutur Kata Anda Memecah Belah Anak Bangsa

Diperbarui: 22 Maret 2019   23:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Jokowi saat menghadiri deklarasi Pengusaha Pekerja Pro Jokowi (sumber foto: AntaraFoto via Tirto.id)

"Bapak ibu mau, memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi yang itu? Mau? Mau? Mau? Saya nggak nyebut, tetapi sudah tahu sendiri kan?" kata Jokowi dalam acara deklarasi dukungan oleh Pengusaha Pekerja ProJokowi (KerJo) di Istora Senayan Jakarta, Kamis (21/3).

Pernyataan Jokowi tersebut saya nilai sungguh tidak pantas diucapkan seorang kandidat calon pemimpin bangsa. Pernyataan tersebut terlalu tendensius, bahkan mengarah pada ajakan kebencian dan memecah belah anak bangsa.

Jokowi memang tidak menyebut nama. Tapi, semua orang juga tahu siapa yang dimaksudkannya. Kandidat presiden pada pilpres 2019 cuma ada dua. Karena yang bicara adalah Jokowi sebagai capres 01, maka yang dimaksudkan sebagai pihak "yang didukung organisasi-organisasi" sudah tentu adalah capres-cawapres 02, Prabowo-Sandi.

Jokowi juga tidak menjelaskan apa maksud dari pernyataan "organisasi-organisasi itu". Namun, menilik dari keseluruhan tutur katanya tersebut, kesan yang ditangkap adalah "organisasi-organisasi itu" tidak baik, harus dihindari. Karenanya, jangan mau memilih yang didukung oleh organisasi-organisasi itu.

Organisasi mana yang dimaksudkan Jokowi? Karena tidak menyebutkan nama, pernyataan Jokowi tersebut menimbulkan multitafsir yang berbahaya, mengarah pada perpecahan anak bangsa. Imbas dari pernyataan Jokowi tersebut bisa menimbulkan rasa saling curiga.

Banyak organisasi yang mendukung atau berada di balik pencalonan Prabowo-Sandi. Lantas, jika merujuk pada pernyataan Jokowi tadi, apakah semua organisasi yang mendukung Prabowo-Sandi itu tidak baik?

Pernyataan Jokowi itu juga semakin menegaskan keyakinan saya, bahwa Jokowi bukan tipe pemimpin yang siap dan mau merangkul semua pihak. Sejak awal menjabat, tak pernah sekalipun Jokowi mau mendekat, merangkul dan mengajak kerja sama lawan-lawan politiknya. Kalaupun itu dilakukan, hanya pada personal tertentu, dengan maksud tertentu pula.

Seperti saat merekrut Ali Muchtar Ngabalin atau Yusril Ihza Mahendra. Sementara terhadap kelompok-kelompok yang tetap kritis dan keras terhadap kebijakan pemerintahannya, Jokowi enggan "berjabat tangan".

Dalam kampanye pilpres, menyerang pribadi lawan memang sah-sah saja dilakukan setiap kandidat. Jokowi pun kerap melakukan hal tersebut. Dalam debat capres misalnya, dua kali Jokowi menyerang secara personal kepada Prabowo. Pertama tentang kebijakan partai Gerindra pada caleg eks koruptor, dan yang kedua tentang lahan konsesi yang dimiliki perusahaan Prabowo.

Begitu pula dengan Prabowo, meskipun frekuensi serangannya tidak sesering Jokowi. Prabowo lebih memilih untuk menyerang kebijakan pemerintahan Jokowi, alih-alih menyinggung kepribadian Jokowi. Hanya saja, di minggu terakhir ini, Prabowo seolah terbawa arus dari pola kampanye Jokowi. Prabowo mulai berani menyerang secara personal. Seperti pernyataannya tentang "Pemimpin Bodoh", meskipun itu kemudian diralatnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline