Lihat ke Halaman Asli

Pradhany Widityan

TERVERIFIKASI

Full Time IT Worker

Merayakan Kegembiraan Sebagai Pencuri

Diperbarui: 29 Juli 2017   09:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cak Lontong dan Akbar membicarakan tentang dunia per-maling-an (Dok. Pribadi)

Pencuri zaman sekarang sudah tidak melakukan pencurian secara diam-diam lagi, tapi sudah dilakukan secara terang-terangan dan tak sedikit juga yang justru digembar-gemborkan. Bahkan beberapa dari meraka sudah berani berpesta. Ya, merayakan kegembiraan sebagai pencuri. Itulah tema utama pentas Indonesia Kita yang ke-25 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, yang dihelat pada Jumat dan Sabtu, 21 dan 22 Juli 2017.

Secara terang-terangan, hampir semua tokoh utama di panggung itu berperan sebagai pencuri dengan berbagai tingkatan atau kelas. Pentas yang berjudul "Pesta Para Pencuri" itu mengajak penonton tak henti tertawa sepanjang dua jam lebih durasi pementasan. Mentertawakan atau tertawa bersama para pencuri.

Semua Bisa Dicuri

Seperti pentas-pentas Indonesia Kita sebelumnya, tim dan para pemainnya tidak banyak berubah dalam pementasan kali ini. Setiap babak yang diselingi tarian dan nyanyian ini menampilkan pelawak-pelawak dengan beragam gaya yang berbeda.

Cak Lontong dan Akbar membuka pentas dengan guyonan-guyonan logika absurb yang membalikkan cara berpikir penonton. Mereka berdua diceritakan sebagai pencuri kelas teri yang ingin menjadi pencuri yang besar dengan mencuri selendang ajaib bernama selendang Wewe Gombel. Konon selendang itu bisa membuat pemakainya tidak terlihat, mirip selimut Harry Potter.

Duet kedua pelawak modern yang muncul bersama booming-nya stand up comedy ini memang selalu menjadi primadona dalam setiap pentas Indonesia Kita. Setidaknya, begitulah dalam setiap pentas yang pernah saya saksikan. Selalu pecah menghidupkan suasana di awal pentas.

Trio GAM bertemu dengan kelompok Marwoto dan Susilo (Dok. Pribadi)

Pelawak lain yang muncul di babak selanjutnya juga tak asing di panggung ini, Marwoto dan Susilo. Mereka berdua berperan sebagai penjaga rumah seorang nyai kaya raya. Walaupun sebenarnya mereka adalah pencuri yang katanya sudah bertobat. Mereka beradu peran dengan Inayah Wahid (pembantu), Happy Salma (Nyai Salma), dan Alexandra Gottardo (Putri Nyai Salma).

Guyonan yang tak kalah lucu walaupun dengan gaya lawakan yang dibilang kuno ditunjukkan oleh kelompok Trio GAM. GAM yang merupakan singkatan dari Guyonan Ala Mataraman itu menampilkan lawakan yang bisa ditemui di pentas-pentas, seperti srimulat atau ketoprak humor zaman dulu. Mereka bertiga yang terdiri dari Gareng, Wisben, dan Joned juga tak pernah absen dari panggung ini.

Trio GAM berperan sebagai kelompok pencuri yang meresahkan namun selalu sial. Mereka juga berniat mencuri selendang Wewe Gombel dan kemudian bekerja sama dengan Marwoto dan Susilo.

Di akhir cerita, Cak Lontong dan Akbar yang berhasil mencuri selendang Wewe Gombel dengan memperdaya Putri Nyai Salma harus berebut dengan Trio GAM dan Marwoto Susilo. Karena merasa sama-sama pencuri kelas teri, akhirmya mereka sepakat menghadap pencuri agung di sebuah goa angker. Pencuri Agung digambarkan sebagai sosok yang konon akan datang ke dunia untuk mencuri sesuatu yang paling berharga milik manusia. Mungkin versi kecil dari Dajjal.

Mereka menghadap pencuri bercadar yang penonton pasti tahu, itu adalah Inayah yang bicaranya cadel. Tapi ternyata dia juga Pencuri Agung Palsu. Pencuri yang sebenarnya muncul dengan berjubah hitam yang tak lain ternyata Nyai Salma sendiri. Dialah pencuri agung yang akan mencuri barang berharga milik manusia. Hati nurani.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline