Lihat ke Halaman Asli

Posma Siahaan

TERVERIFIKASI

Science and art

Bertemu Ibu Endah Raharjo, Kompasianer Kampung Fiksi di ICD 2017

Diperbarui: 17 Mei 2017   02:13

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bersama mbak Endah raharjo (dokumentasi pribadi)

[caption caption="Dokumentasi pribadi"][/caption]

"Ibu Endah, ya? Dulu sering nulis fiksi di Kompasiana, kan? Ibu wartawan?"Tanya saya yang sangat antusias berjabat tangan dengan Kompasianer yang sempat menghebohkan penulisan fiksi di Kompasiana yang sempat dianggap kurang berkelas dibandingkan penulisan opini dan reportase. Dengan Langit Quin, dia lebih dulu 'join' di K, tetapi yang membuat grup 'Fiksiana Community' memang si Langit.

"Saya arsitek. Saya memang di Yogya tinggalnya. Kebetulan tadi lihat rame-rame disini, saya mampir..."Katanya ramah, beliau mengaku sudah lama tidak menulis di Kompasiana, karena sudah sibuk dengan proyek pekerjaannya.

Kompasianer yang bergabung di Kompasiana sejak 20 Mei 2010 ini pernah menerbitkan novel 'Senja di Chao Phraya' di tahun 2012 dan beberapa buku keroyokan dengan beberapa pencinta fiksi seperti Gratcia, G- Siahaya, Winda Krisnadefa, Deasy Maria, Ria Tumimomor, Sari Novita, Indah W dan Meliana Indie. Ibu inipun pernah mengisi cerita bersambung di Kompas.com berjudul 'Lelaki Berlongyi Biru'.

Sebagai Kompasianer yang bergabung di tahun yang sama dan suka juga berfiksi ria, maka nama ini akan sangat mudah dikenang, karena gaya menulisnya yang renyah dan penuh dialog manis personal.

Beberapa tema cerpen kontroversial seperti kehidupan lesbian pernah dijabarkannya dalam bentuk yang menggoda tapi tetap santun. Pengalaman bertemu pria Burma yang guanteng banget dia ungkap dalam cerita bersambung si lelaki berlongyi.

"Ramai juga, ya kegiatannya. Pak Posma dari Jakarta?" Tanyanya saat podium sedang ada 'talk show' dengan Institut Musisi Jalanan.

"Saya dari Palembang, bu. Ada yang dari Malang, Jakarta ada orang seratusan dari Medan juga ada."Kata saya dan diapun yang sudah sepuh dan mungkin sudah bercucu manggut-manggut. Tidak lama kemudian menghampiri pak Dian Kelana dengan kamera sakti mandragunanya menawarkan foto-foto bersama sebagai kenang-kenangan.

"Menulis lagilah bu di Kompasiana, kangen deh dengan ceritanya..."Bujuk saya.

"Ya, nanti saya usahakan..."Katanya agak ragu. Akhirnya giliran Jogja Hiphop Foundation naik panggung dan sayapun tak kuasa permisi mau bergerak ke depan untuk ambil videonya.

Sekilas kalau melihat banyaknya Kompasianer yang bagus tulisannya, datang dan pergi di Kompasiana, saya malah mikir juga kenapa masih betah. Mungkin karena lingkup kerja saya kecil, hanya satu rumah sakit mungil dengan 113-an tempat tidur. Keinginan saya untuk aktualisasi diri dan 'marketing' hanya sebatas memberitahukan ke kotamadya Palembang, bahwa saya ada di rumah sakitku dan saya bisa bercerita panjang lebar, bukan dokter yang hanya memeriksa dan tulis resep. Saya tidak merasa perlu warga Jakarta, Bandung, Makasar atau Papua mencari saya buat berobat, ongkosnya kemahalan. Mungkin nanti kalau saya berniat membuat buku lagi yang diharapkan 'book office', kurasa perlu menyebarkan tulisan cantik sampai jauh ke semua kota yang ada toko bukunya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline