Lihat ke Halaman Asli

Copy Paste bukan Kopi dan Pasta!

Diperbarui: 26 Juni 2015   18:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

‘Eh, kapan dong kita jalan, mencari skripsi yang judulnya sama tea.’

Ha?! Aku bengong. Apa sih yang baru dia bilang? Betulkah pendengaranku? Mencari skripsi dengan JUDUL SAMA? SAMA? Aku terhenyak, dan kuputuskan untuk menunda meneruskan buku yang tengah kubaca.

‘Yah, paling enggak, gue mau kopi bab 1-nya aja dulu.'

Uih, aku sama sekali tidak salah dengar. Beneran, aku kaget. Bagaimana bisa?

Dulu, aku justru main ke perpustakaan, melihat Tugas Akhir (TA) yang ada untuk memastikan bahwa TA aku tidak sama dengan mereka. Tapi, ini, malah mencari yang sama?!

Lebih gila lagi, dia memang sudah berniat untuk mengambil Bab 1 dari skripsi siapapun itu, supaya bisa memberikan judul. Duh, aku bener-bener gak bisa ngerti. Mereka betul-betul sedang membicarakan “membuat skripsi” kan, bukan sekedar tugas makalah kelas *wah, apakabar dengan “sekedar tugas makalah kelas” ya? Sesaat aku lupa kalau aku hanya "numpang" dengar pembicaraan dan bukan guru atau dosen dua orang yang asik ngobrol itu. Tidak habis aku berpikir, apa dia tidak tahu apa itu Bab 1, apa artinya, kenapa harus ada dan seterusnya. Itu bukan sekedar hanya Bab 1, tapi justru menjadi landasan seluruh penelitian yang mau dilakukan. Berat memang, tapi seseorang yang mau meneliti jelas harus tahu pasti kenapa mau meneliti itu, untuk apa, bagaimana melakukannya dan seterusnya.

Jadi inget satu waktu, aku dan seorang kawan pernah tanpa sengaja membahas ini. Waktu itu, satu diantaranya kami membahas kebingungan kami berdua dengan kata kata’ Sudah sampai bab berapa’ yang sering ditanyakan kepada orang yang sedang skripsi. Kalau waktu aku menulis skripsi ditanya hal yang sama, aku sungguh tidak bisa menjawab. Karena aku tidak bisa mengkotak-kotak pekerjaanku menurut bab (walaupun memang penyelesaian dilakukan secara berurutan - menurut metoda yang dipilih). Betapa memang ya, pembuatan skripsi itu bagaikan momok, dan mimpi buruk.

Apa memang TA atau skripsi itu suatu beban berat dan dilihat hanya sebagai satu tiket untuk bisa diwisuda dan dengan demikian bisa sedikit pamer kiri pamer kanan? Apa memang tidak ada keinginan untuk mengetahui lebih lanjut suatu hal yang berhubungan dengan studi yang diambilnya? Sedih. Ada beberapa orang yang begitu bersemangat mengerjakan skripsi harus mengalami kendala finansial atau kendala akademik, misalnya saja karena dianggap tidak sesuai dengan apa yang dianut pembimbingnya.

Bikin skripsi itu memang penuh luka liku. Seperti ikut ospek aja, penderitaan lahir batin, walau tidak mau diulang, tapi gak penah mati buat dibicarakan!

Tapi, hey, itulah yang membedakan kamu dengan mereka yang mungkin tidak beruntung untuk bersekolah formal seperti kalian *walau pengalaman membuktikan bahwa banyak orang pintar yang tidak menempuh jalur formal tersebut*. Duh, seandainya saja dia sadar bahwa dia adalah orang yang beruntung bisa punya kesempatan untuk mencoba mensitesis suatu hal dan mendapat bimbingan untuk itu, mudah-mudahan penelitian bukan milik "peneliti" semata, mudah-mudahan tidak lagi terpikir untuk copy paste skripsi.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline