Lihat ke Halaman Asli

Surat Kepada Rendra

Diperbarui: 26 Juni 2015   19:38

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Rendra yang baik, Mendengar kau mati, saya marah, marah banget, sambil saya mencaci Tuhan. Orang macam kau, tidak boleh mati. Kau harus hidup selalu, karena kalau mati siapa lagi yang bisa merasakan apa yang dirasakan rakyat kecil, kalau kau mati siapa lagi yang bisa menciptakan puisi-puisi itu. Tau nggak Mas RenDra, saya pernah putar kasetmu, dalam perjalanan Jakarta-Surabaya, delapan ratus lima puluh kilometer, selama 24 jam, dan saya Cuma dengar kasetmu, satu kaset saja, yang berarti saya harus bolak balik paling kurang dua puluh kali tapi saya tidak bosan. Saya selalu bertanya kenapa saya tidak bosan dengan puisimu, narasimu, dan saya selalu teringat matamu yang tajam dan berapi. Kata-kata itu seperti mantra, dan saya selalu teringat Paman Doblang, dalam penjara, dimana katamu “keberanian adalah cakrawala”. Dan memang Mas, keberanian itu cakrawala, saya sudah membuktikannya waktu saya dipenjarakan di Makassar, demi nafsu memiliki uang yang bernama pemerasan. Meskipun saya tahu, bahwa kata2mu akan hidup seribu tahun lagi, tapi saya tetap tidak setuju kamu mati. Bagaimana tidak mas, ada tiga puluh juta rakyat kita yang miskin, pendapatan dibawah tiga ratus ribu per bulan, dan saya tahu bahwa jiwamu selalu ada di langit mereka, karena saya pernah bertemu kamu mas, di pesawat Jakarta-Surabaya, dan saya melihat ke tubuhmu yang mulai renta, dan saya melihat sendal plastik tuamu, dan disitu saya lihat kesederhanaanmu, kesederhanaan seorang rakyat, dan saat itu saya merasa malu mas. Bayangan itu selalu ada dalam pikiranku, dan saat saya ingin memakai baju-baju yang mahal, saya selalu ingat kesederhanaanmu, sendal jepitmu, dan tatapan tajammu yang menghakimi setiap baju mahal yang ada dalam benakku. Andaikan mas yah, bangsa ini terus menerus melahirkan orang-orang seperti kau mas, andaikan bangsa ini dipimpin oleh jiwa-jiwa yang sederhana seperti kamu mas, dan andaikan bangsa ini punya kepekaan seperti kamu mas. Saya iri mas, saya iri, kenapa bangsa-bangsa lain maju begitu cepat, dan kita, sepertinya di setiap langkah kita, selalu ada batu yang memberati langkah kita. Batu itu yang kemudian sekarang kita namakan korupsi. Perempuan-perempuan kita kau lukiskan dalam puisi Nyai Dasima, yang cantik dan genit, dan kemudian kau katakan bahwa perempuan-perempuan kita pergi dan tidak kembali lagi. Iya mas, perempuan-perempuan kita tidak pulang lagi mas, hilang dalam kelab-kelab malam dan diperkosa sebagai tenaga kerja wanita. Coba bayangkan mas, ibu-ibu yang melahirkan putra-putri kita, direduksi menjadi tenaga kerja, jadi kita diperlakukan tidak ubahnya seperti tenaga listrik, tenaga air, dan tenaga-tenaga lainnya. Batin kita sudah mati oleh cahaya materialisme yang bernama uang, dan antara sesama kita Cuma ada selalu hitungan-hitungan untung rugi yang menjadikan kita Cuma seperti seonggok daging yang bernapas. Saya pernah menyurat kepada mas, untuk menanyakan dimana saya bisa membeli lagi kaset-kaset mas, tapi rupanya surat itu hilang sendiri ditelan ketidak tahuan, karena saya pun tidak tahu dimana alamat rumah mas Rendra. Mas Rendra yang baik, sekarang ini mas sudah ada dalam kuburan yang gelap, dan sebentar lagi ulat akan memangsa tubuh yang sudah tidak berjiwa lagi, tapi biarlah mas semua menjadi habis begitu, biarlah semua terkubur disitu dan menjadi tanah, tapi saya akan terus menghidupkan roh mas rendra, dinegara tercinta ini, dimana perjuangan dan kepekaan jiwa menjadi suatu kebodohan. Saya juga menyesal kenapa mas rendra tidak pernah berurusan dengan hukum dan aparat hukum, sehingga mas tidak pernah lihat kenapa ada 30 juta orang yang berada dibawah garis kemiskinan. Kalau begitu mas, saya merasa lebih beruntung, pernah berada dalam tahanan polwiltabes makassar, untuk kasus yang bernama perbuatan tidak menyenangkan, dan itu terjadi belum lama mas, Mei tahun 2007. Disitulah saya mengerti apa yang dirasakan oleh “paman doblang’, orang yang dipenjarakan dalam puisi mas rendra. Disitu juga saya melihat cakrawala, dan disitu juga saya melihat begitu banyak saudara-saudara kita yang dilibatkan dalam sesuatu yang mereka tidak ketahui tapi bisa mereka rasakan. Saya benci mas tempat itu, karena tempat itu bukan lagi merupakan tempat untuk menghukum yang salah, tapi menjadi tempat untuk memeras seseorang. Bukan hanya merasakan gelap dan panasnya sel-sel itu, tapi juga saya merasakan dianiaya selama sejam, tapi untunglah mas saya hanya cedera ditelinga. Disitu saya merasakan buruknya polisi kita, dan terutama kesewenang-wenangan mereka. Polisi merasa bahwa tahanan adalah milik mereka dan jika demikian mereka berbuat sekehendak hati dan merasa diri paling suci. Tapi saya tahu mas, dibalik baju licin dan pangkat yang mereka kenakan, terlalu banyak sumpah serapah yang mengiringi langkah mereka. Polisi tidak lebih baik dari orang yang di dalam tahanan malah bagi saya mereka lebih buruk, karena banyak orang yang ditahan karena kelaparan sedangkan polisi itu mencoba mendapatkan melebihi gaji mereka, dan berusaha mendapatkan sesuatu dari hasil kejahatan itu, jadi kalau demikian apa bedanya. Memang tidak semua dari polisi-polisi itu berjiwa buruk tapi yang baik itu terlalu sedikit untuk tidak dikatakan tidak ada. Dua tahun telah berlalu dari masa gelap itu, dari pimpinan ke pimpinan sudah ada peningkatan mas, tapi ada bagian yang bernama reskrim, sepertinya hari-hari berlalu tanpa membuat mereka berubah. Pikiran jahat itu sudah menyatu dengan terbit terbenamnya matahari dan mereka melihat hidup ini hanya sekedar mencari duit dari orang-orang disekelilingnya. Mereka seakan tidak puas dengan gaji yang sebenarnya cukup sesuai kualifikasi mereka. Rata-rata mereka lulusan SMA dan mereka tidak puas dengan 2 juta rupiah. Mereka seakan-akan tidak mau tahu bahwa dengan sekolah setingkat SMA dan dapat dua juta rupiah sudah lumayan. Banyak diluar sana, sarjana yang bergaji satu jutaan yang sudah bersekolah membanting tulang, ini juga sebuah ketidak adilan. Bagaimana bisa seorang yang bekerja buruk sekarang ini mengatakan akan bekerja dengan baik kalau sudah digaji tujuh juta rupiah. Orang yang digaji tujuh juta rupiah haruslah menunjukkan bahwa mereka pantas digaji tujuh juta. Kita harus hapuskan seluruh polisi yang ada saat ini, menyekolahkan yang muda, dan mengajarkan mereka bagaimana bekerja dengan baik dan jujur barulah gaji tujuh juta dapat diterapkan. Mas Rendra yang baik, mas sudah mati, dan kami semua merasa begitu sendiri. Sendiri dalam perjalanan kehidupan ini yang belum menunjukkan tanda-tanda akan kemajuan yang diinginkan oleh rakyat. Tapi biarlah mas, apa yang mas udah berikan pada indonesia, akan terus hidup sampai dengan semua menjadi debu-debu kosmik. Hidup ini akan terus berlanjut walaupun kata-kata yang seperti mas tuliskan akan hilang dan yang paling saya takutkan mas, paman doblang-paman doblang yang lain akan semakin banyak lagi dipenjara. Apapun terima kasih, mas, dan selamat jalan.[PR]




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline