Lihat ke Halaman Asli

Leo

Freelance

Mengkaji Kepemimpinan Strategi yang Dimiliki Soeharto

Diperbarui: 8 Mei 2023   19:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Kepemimpinan strategis dari pandangan militer merujuk pada kemampuan seorang pemimpin militer untuk merencanakan, mengkoordinasikan, dan mengimplementasikan strategi yang efektif untuk mencapai tujuan militer yang diinginkan. Kepemimpinan strategis dalam konteks militer juga melibatkan kemampuan untuk mengelola sumber daya manusia, teknologi, dan logistik dengan bijak untuk mencapai tujuan tersebut.

Seorang pemimpin militer yang memiliki kepemimpinan strategis yang baik harus memiliki kemampuan untuk memahami situasi secara menyeluruh, mengambil keputusan yang tepat dalam kondisi yang sulit dan serba cepat, mencakup kemampuan untuk mengembangkan dan melaksanakan strategi komunikasi yang efektif untuk memotivasi dan memimpin pasukan serta masyarakat.. 

Dia harus mampu memperhitungkan risiko dan peluang yang terkait dengan setiap keputusan strategis yang diambilnya dengan tepat, dan evaluasi kinerja untuk memastikan bahwa operasi militer dilakukan dengan efektif-efisien, serta membangun kemitraan dan koalisi yang kuat dengan rekan-rekan militer dan pemimpin sipil untuk memastikan kelangsungan operasi militer yang sukses.

Kepemimpinan strategis Soeharto dapat dikaji dari beberapa aspek, yaitu pemahaman situasi, pengambilan keputusan, manajemen sumber daya, strategi komunikasi dan juga keterkaitan dengan energi dan pertahanan juga, terutama dalam konteks pembangunan dan modernisasi Indonesia pada masa pemerintahannya.

Pertama, dalam hal pemahaman situasi, Soeharto dikenal sebagai pemimpin militer yang mampu memahami situasi secara menyeluruh. Dia memiliki kemampuan untuk menganalisis berbagai faktor yang mempengaruhi keamanan nasional dan strategi pertahanan, dan membuat keputusan yang tepat dalam kondisi yang sulit dan serba cepat. Soeharto juga mampu membangun kemitraan dan koalisi yang kuat dengan rekan-rekan militer dan pemimpin sipil untuk memastikan kelangsungan operasi militer yang sukses.

Kedua, dalam hal pengambilan keputusan, Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas. Dia mampu memperhitungkan risiko dan peluang yang terkait dengan setiap keputusan strategis yang diambilnya, serta mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan tersebut. Soeharto juga memiliki kemampuan untuk memperkirakan konsekuensi dari setiap keputusan, baik secara politik maupun militer.

Ketiga, dalam hal manajemen sumber daya, Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana. Dia mampu mengelola sumber daya manusia, teknologi, dan logistik dengan efektif, dan memastikan bahwa pasukannya dilengkapi dengan peralatan dan persediaan yang cukup untuk mencapai tujuan strategis. Soeharto juga memiliki kemampuan untuk membangun kebijakan anggaran yang kuat dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara optimal.

Keempat, dalam hal strategi komunikasi, Soeharto dikenal sebagai pemimpin yang pandai berkomunikasi dan memotivasi pasukannya. Dia mampu mengembangkan dan melaksanakan strategi komunikasi yang efektif untuk memotivasi dan memimpin pasukan serta masyarakat. Soeharto juga memiliki kemampuan untuk membangun citra yang kuat dan kredibel di mata publik dan pemimpin dunia.

Dalam hal energi, Soeharto memiliki visi yang jelas dan terencana dalam mengembangkan sumber daya energi nasional, terutama minyak dan gas bumi. Pada awal masa pemerintahannya, Soeharto berhasil merestrukturisasi perusahaan minyak dan gas bumi nasional, Pertamina, dan membentuk Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk menarik investasi asing ke sektor energi. Soeharto juga menginisiasi pembangunan berbagai proyek energi besar seperti PLTA Jatiluhur, PLTA Saguling, dan PLTA Kedungombo.

Selain itu, Soeharto juga memiliki kebijakan untuk memperkuat pertahanan nasional dengan membangun industri pertahanan dalam negeri. Soeharto melihat bahwa industri pertahanan merupakan faktor penting untuk menjaga kedaulatan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor senjata dan perlengkapan militer. Oleh karena itu, Soeharto membentuk PT Pindad (Persero) dan PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai perusahaan milik negara yang fokus pada pengembangan dan produksi senjata, kendaraan tempur, dan pesawat terbang.

Dalam konteks militer, Soeharto juga memperkuat TNI (Tentara Nasional Indonesia) dengan mengembangkan berbagai program modernisasi, termasuk pembaruan doktrin, peralatan, dan teknologi. Soeharto memperkuat militer untuk menghadapi berbagai ancaman keamanan yang terjadi pada masa pemerintahannya, termasuk ancaman dari dalam negeri seperti gerakan separatis dan teroris, maupun ancaman dari luar negeri seperti konflik dengan Malaysia dan pengeboman Bali pada tahun 2002.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline