Lihat ke Halaman Asli

Bayu Segara

Lihat di bawah.

Gaya Bahasa Customer Care yang Mesti Dibenahi

Diperbarui: 26 September 2019   15:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ekonomi. Sumber ilustrasi: PEXELS/Caruizp

Mungkin anda pernah diperintah oleh seseorang dengan kata seperti ini "Ambilkan saya pulpen dong". Atau anda juga pernah mendapat perintah dengan kata berikut "Ambilkan saya pulpen!". Mungkin juga ada yang memerintah anda dengan kata begini "Tolong, ambilkan saya pulpen".

Kira-kira anda bisa membedakan mana perintah yang bernada teman, mana perintah yang bernada boss dan mana perintah yang bernada orang lain? Jika anda bisa membedakan semua nada perintah di atas maka anda adalah orang yang telah mengerti cara berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Kalau belum mengerti, mungkin bahasan ini bisa membuka wawasan anda.

Penulis berikan satu contoh lagi tentang mengenai topik yang sedang dibahas ini dengan tujuan agar lebih mudah difahami.

Sebagai seorang pelanggan, mungkin anda pernah mendapat jawaban seperti ini dari seorang operator atau orang yang mengangkat telepon "Bapaknya sedang rapat, nanti telepon lagi saja". 

Sepertinya kata ini terdengar biasa dan lumrah. Seorang pelanggan yang ingin bicara dengan karyawan perusahaan namun ternyata karyawan itu sedang sibuk. Entah itu rapat atau sedang online (bicara di telepon) dan alasan lainnya. Maka jika memang ia ingin bicara, punya opsi menunggu atau telepon lagi, itu yang biasa ada dalam benak kita.

Dari dua contoh kata di atas mari kita bahas satu persatu.

Gaya bahasa perintah terkadang dapat menimbulkan kekesalan. Contohnya, jika teman kerja kita yang satu level memberi perintah dengan kata "Ambilkan pulpen saya!" maka ada dua kemungkinanan. 

Bagi anda yang merasa bahwa orang yang selevel dengan kita tidak usah memerintah dengan bahasa seorang atasan maka tentu perintah itu akan menyebalkan. Serta bagi orang yang sudah mengerti cara berkomunikasi atau tatakrama bicara yang baik, tentu sedikitnya merasa kesal juga. 

Lain bagi orang yang mengabaikan hal-hal seperti itu, mungkin baginya perintah itu hal yang biasa dan dia juga sering berlaku seperti itu.

Walau sikap orang berbeda-beda dalam menyikapi kata perintah tersebut namun dalam dunia kerja, nada memerintah sebisa mungkin harus dihindari. 

Selain untuk mempererat hubungan kerja sesama karyawan juga untuk menghilangkan suatu jarak yang biasanya tercipta karena perbedaan level antara atasan dan bawahan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline