Dengan langkah tegap, Johan yang turun dari mobil ke arahku. Sekalipun sudah paruh baya, ia yang masih tampak gagah itu membuatku semakin tertarik. Terlebih ketika ia menyapaku dengan nada ramah, "Sudah lama, Sum?"
"Kira-kira duapuluh menit lalu, Om."
"Aku tadi ke warungnya Rinten. Mau ambil dompet. Eh.... Ternyata, dompetku yang terjatuh di warung kamu bawa ke rumahku. Makasih, ya."
"Sama-sama, Om." Aku menyerahkan dompet pada Johan dengan tangan gemetar. "I...ni dompetnya, Om."
Tanpa memeriksa isinya, Johan yang tampak percaya padaku memasukkan dompet itu ke dalam saku jeans hitamnya. "Ayo! Masuk dulu. Aku ingin ngobrol sejenak dengan kamu, Sum."
"Maaf, Om. Aku harus kembali ke warung. Kasihan Bulik Rinten sendirian melayani pelanggan."
Johan tertawa kecil. "Rinten sudah menutup warungnya, Sum. Jualannya sudah kelarisan. Sebelum pulang ke rumah, aku tadi sempat membantunya beres-beres."
"Om ini baik sekali."
"Sudahlah, Sum! Gak perlu memujiku." Johan tersenyum manis. "Ayo mampirlah sejenak!"
"Ehm...."