Lihat ke Halaman Asli

Susy Haryawan

TERVERIFIKASI

biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

"Pengahokan" Dudung Abdurahman Penista Islam, Pasti Gagal

Diperbarui: 21 Desember 2021   19:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bahar & Dudung: Tribunnews.com

"Pengahokan" Dudung  Pasti Gagal

Trending di media sosial dengan taggar tangkap Dudung penghina Islam. Respon tidak akan sebagaimana yang dimaksudkan para pemain medsos ini. Mengapa  begitu cepat mengatakan bahwa agenda ini gagal?

Media arus utama tidak menjadikan isu itu sebagai sebuah berita yang akan menarik publik. Tidak ada pemberitaan mengenai taggar yang sedang trend hari ini.  Ya hanya ada  di media sosial itu. tidak meluas dan berdampak lebih gede lagi. Beberapa alasan layak dicermati mengapa tidak memberikan gaung yang cukup signifikan.

Pengulangan pola. Hal yang pernah sukses untuk menghantam Ahok diulang lagi. Kali ini Jenderal Dudung yang berani melabrak FPI yang sedang eforia karena Rizieq pulang. Eh malah dipatahkan dengan tegas. Penurunan baliho dan papan nama di Petamburan. Jantung FPI dikoyak oleh Pangdam Jaya kala itu.

Sentimen agama yang dipaksakan. Susah karena KSAD seorang Muslim. Berbeda dengan Ahok, tentu saja bukan bicara agama. Namun ketika sudah membakar mengenai sentimen agama, ras, dan suku sangat mudah terbakar. 

Nah, Dudung  pasti ada pembela yang sama kuat dengan yang menyatakan ia menista agama. Lha agamanya sendiri kan aneh.

Lahirlah dukungan bahwa jenderal bintang empat ini cucu dari salah satu tokoh agama masa lampau. Sama kuat, bahkan lebih dominan yang mendukung mantan pangkostrad ini karena alasan yang lebih lanjut sebagai berikut.

Bahar Smith, cenderung orang sudah tidak simpatik, usai ia menghajar murid dan sopir taksi. Namanya sendiri sudah tidak menjual dan meyakinkan publik dengan kampanye penodaan agama. Belum lagi makin banyak beredar video sikapnya yang bertolak belakang dengan apa yang ia jadikan jargon.

Kondisi sudah berbeda. Radikalisasi agama sudah mulai banyak berkurang. Pembubaran resmi FPI dan HTI jelas berbeda dengan saat 212. Di mana mereka waktu itu sedang kuat-kuatnya. Belum lagi ditunggangi kepentingan politik praktis yang sangat kental. Semua tiba-tiba bersatu atas nama pembelaan agama. Aslinya begitu banyak kepentingan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline