Lihat ke Halaman Asli

Susy Haryawan

TERVERIFIKASI

biasa saja htttps://susyharyawan.com eLwine

Belajarlah Sampai ke Negeri China, Jangan Sekali-kali ke Jakarta

Diperbarui: 13 Maret 2020   13:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Pepatah yang sangat baik, dan ada bukti sahih hingga hari ini. Bagaimana China dalam hitungan bulan bisa mengatasai wabah corona dengan baik. Selain berbicara mengenai virusnya, namun juga bagaimana mereka merespons, menjawab persoalan itu dengan cepat namun jitu. Soal rumah sakit darurat yang demikian sigap dibangun.

Masker kurang dan ada mahal, buat pabriknya. Relawan datang dengan benar-benar sukarela, bukan bayaranwan yang banyak ngarep seperti relawan politik bangsa ini.  Setelah keadaan membaik mereka diberikan layaknya upah, mereka menolak. Negara membutuhkan kami, dan itu yang bisa kami lakukan. Salut dengan pilihannya yang tidak mengatasnamakan perintah Tuhan, namun kemanusiaan yang menjadi rujukan mereka.

Tentu bukan dalam maksud merendahkan Tuhan dan Ketuhanan, namun bagaimana orang mabuk Tuhan dan agama sehingga menjauhkan dari kemanusiaan dan  seolah yang dunia ini buruk semua.  Mengejar yang ilahiah, eh malah abai yang manusiawi. Ini soal sikap mental dan memahami perintah agama sepotong-sepotong.

China yang sudah bisa mengatasi covid19 dengan sikap mental positif, kini bergerak untuk ganti menolong negara lain. Lagi-lagi sikap  positif yang dikembangkan. Keberanian untuk berbagi, bukan untuk menari di atas derita orang atau pihak lain. Miris bukan, ketika di sini yang demikian mengagungkan Tuhan dan ajaran agama, eh malah cenderung picik, jahat, dan mata doitan.

Beberapa hal yang patut dilihat untuk tidak belajar ke Jakarta adalah:

Harga masker mahal, persediaan susah dicari. Ketika Surabaya bisa membagian gratis, eh Jakarta menjual dengan harga tiga kali lipat lebih. Katanya karena pembelian sudah mahal. Aneh, pemerintah membeli dari spekulan. Kog lucu?

Surabaya setingkat kota, APBD jelas lebih kecil saja bisa membagikan dengan gratis. Mengapa Jakarta yang leih gede malah menjual dengan harga seperti spekulan. Padahal marketplace sudah mengultimatum pelapak untuk menjual normal. Pemda lebih dodol dari pada penjual online.

Mengatakan genting. Lha sudah tahu warga Indonesia parnoan, bukannya menenteramkan malah mengatakan yang menakutkan. Beda dengan gubernur lain yang mengatakan tenang, bisa diatasi.  Aneh pemilihan kata untuk menyikapi keadaan.

Lebih lucu dan aneh, ketika demonstrasi dapat izin, padahal tidak mendesak juga tema yang diangkat. Padahal CFD dibatalkan, karena alasan kegentingan covid19. Apa bedanya kerumunan CFD dan demo? Padahal demo jelas lebih melelahkan dan mengeluarkan banyak energi yang bisa membuat orang lebih rentan tertular penyakit. CFD itu menggembirakan dan potensi menyehatkan.

Tiba-tiba mengatakan jika KRL menjadi tempat yang sangat potensial menjadi tempat penyebaran virus. Secara teori dan teknis memang benar. Namun kan perlu kajian dan komunikasi bagaimana dampak yang bisa terjadi. Ini tidak, langsung mengeluarkan pernyataan sepihak.

Ketika KRL keberatan, dan ternyata tidak juga berdampak, mengatakan itu hanya simulasi. Yang genting itu bukan covid19 ternyata tapi otak pemangku kepentingan Jakarta. Bagaimana seenak perutnya sendiri mengatakan ini dan itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline