Lihat ke Halaman Asli

Film "Ave Maryam": Kompromi Film Festival vs Lembaga Sensor Film

Diperbarui: 14 April 2019   14:28

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ave Maryam| Sumber: Pratama Pradana Picture

"Saya ingin mengajak kamu keluar mencari hujan di tengah kemarau".

Saya pertama kali menonton film ini tahun lalu, saat meliput acara Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Sebagai penyuka film dengan tema isu sosial, buat saya melihat Maudy Koesnaedi, Joko Anwar, dan Tutie Kirana yang muslim dalam simbol-simbol Katolik, tentu saja sangat menarik.

Film ini dibuka dengan nada-nada sunyi dan tempo yang lambat. Anda bisa mendengarkan derit pintu tua, suara sepatu, kecipak air bak mandi saat diciduk, hingga titik-titik hujan menjadi begitu jelas seolah-olah keriuhan hidup di luar sana adalah anomali.

Bersetting di Semarang tahun 1998, film ini menghadirkan jalanan kota Semarang yang sangat khas. Gereja Bleduk, Kafe Spiegel, penjual barang bekas di pasar Sriwedari, dinding-dinding bangunan Belanda yang mengelupas dan tentu saja, Kesusteran dan Katedral Semarang.

Keberagaman dan toleransi ditunjukkan dengan kehadiran gadis kecil berjilbab yang setiap pagi mengantarkan susu dengan sapaan alhamdulillah dan asalammualaikum.

Tone film berubah gradasinya setelah Yosef datang di sebuah malam dengan Suster Monik. "Dia akan di sini untuk mengajar musik hingga natal," ujar Romo Martin.

Ave Maryam bersama Yosef| Sumber: Pratama Pradana Picture

Seketika warna-warni cinta menyelinap di antara abu-abunya pakaian suster yang menghias sejak awal film. Untuk hal ini harus berterima kasih pada Ical Tanjung, sang sinematografer. Ical membuat Kota Tua Semarang yang kumuh dan suram menjadi sudut-sudut paling romantis. Atau lebih tepatnya, Pemkot Semarang harus berterima kasih pada Ave Maryam jika setelah pemutaran film ini akan ada banyak paketan wisata bertema Ave Maryam. Dalam dunia pariwisata, length of stay adalah segalanya.

Saya paling suka adegan di mana Maryam dengan dress pink terang berlari menuju mobil yang telah menantinya di bawah cahaya sore yang orange. Saya kenal sudut kumuh itu. Bahkan mungkin, hampir semua fotografer kenal sudut itu. Tapi menjadi seromantis itu?

Ah, saya jatuh cinta. "Itu tone warna yang akan saya pakai jika kelak saya ke Venesia dan memotret kota itu," gumam saya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline