Lihat ke Halaman Asli

OtnasusidE

TERVERIFIKASI

Petani

Marah Tanda Cinta

Diperbarui: 3 Agustus 2016   10:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pelatih menolong darah dagingnya yang otot kakinya tegang

Bentakan. Teriakan. Hentakan kaki. Tunjukkan dan juga hukuman, ledekan ditambah tertawaan, barangkali itulah yang paling banyak terjadi di Lapangan MTQ Lahat terhadap anak lelaki dan perempuan yang bertinggi badan minimal 170 cm dan 165 cm.

Anak-anak itu pasrah. Anak-anak itu tak bisa melawan. Mereka sepertinya terhipnotis mau saja atas perlakuan orang-orang dewasa yang berbadan tegap dan terlatih itu. Dirudungkah mereka?

Panas terik. Uap panas dari aspal yang terpanggang dari sinaran matahari di bulan Agustus yang merupakan periode kemarau di Punggung Bukit Barisan Lahat itu terlihat dari kejauhan seperti kabut berbayang. Fatamorgana.

Keringat bercucuran. Kulit mereka rata-rata mencoklat hitam. Topi yang menutupi kepala mereka seakan tak kuasa melindungi sinaran matahari yang menerpa wajah-wajah remaja dewasa muda ini. Mereka selalu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya sambil tangan memberi hormat dengan tubuh tegap. Mereka selalu menyanyikan lagu-lagu perjuangan kala tubuh diperintahkan untuk istirahat. Lagu-lagu yang meresap hingga tulang belulang mereka.

Tiga puluh enam anak beserta pelatih bertarung adu kuat, daya tahan, berkejaran dengan waktu menuju kesempurnaan gerakan pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016. 

Mereka sudah memilih jalan. Jalan disiplin. Jalan terjal lagi mendaki. Jalan Paskibraka.

“Kita berpanas, berlatih berjuang di sini menuju 17 Agustus. Semua mata akan memandang kalian nanti. Konsentrasi. Jalankan tugas kalian. Kibarkan Bendera Merah Putih. Kalian adalah Paskibaraka,” kata Pelatih, Sugianto.

“Siap,” jawab tiga puluh enam anak.

Kemarahan pelatih ini adalah gemblengan mental. Hukuman adalah latihan fisik. Semuanya bertujuan menuju pada kesempurnaan gerakan mereka agar sukses mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Marah tanda cinta. Cinta pada anak-anak yang sudah dianggap darah daging para pelatih sendiri.

Lets  check  it  dot,  marah tanda cinta itu.

Dihukum di panas terik di aspal yang panas

Genggamanmu salah nak

Tak pernah lelah memberikan penjelasan mengenai gerakan hingga suara serak

Mata elang pelatih melihat gerakan anaknya kalau masih ada yang salah

Pelatih memperhatikanmu

Kerapian, keselarasana dan tenaga sudah mulai terlihat

Berjalan pulang ke Desa Bahagia sambil bernyanyi lagu-lagu perjuangan

Jalan jongkok ya nyanyinya nggak semangat

Jalan mendaki lagi terjal dan penuh disiplin yang dipilih Paskibraka

Salam Paskibraka
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline