Beriman dengan akal sehat mempunyai 2 aspek : (1) keterbukaan pikiran dan (2) daya kritis.
Keterbukaan atau open minded menunjukkan adanya kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang tidak mahatahu; ada banyak hal yang kita tidak tahu dan tidak terpikirkan; sehingga manusia hanya bisa mencapai kebenaran relatif, kebenaran sebatas keterbatasannya sendiri, sebatas sudut pandangnya. Orang yg menyadari dirinya tidak mahatahu biasanya lebih toleran dan mau mendengar pendapat orang lain, mau berusaha mengerti sudut pandang orang lain. Tetapi orang yg sok mahatahu, berpikiran sempit dan tidak toleran, dan sulit untuk menerima perbedaan pendapat; karena ia menyangka dirinyalah yg paling benar dan tdk mungkin salah.
Rasio atau nalar digunakan untuk menilai apakah sesuatu yang disodorkan kepada kita sebagai kebenaran itu memiliki bukti yang cukup signifikan untuk bisa diterima oleh pikiran kita sebagai suatu kebenaran atau tidak. Jika kita tidak terbiasa memakai rasio kita maka daya kritis ( critical factor ) kita akan makin lemah. Akibatnya kita akan menjadi orang yang mudah diombang-ambingkan, tidak mempunyai prinsip, mudah dipengaruhi, mudah ditipu dan disesatkan, ( dan bahkan mudah digendam ). Pikiran kritis kita merupakan benteng dan penyaring terhadap segala sesuatu yang tidak benar atau tidak rasional, supaya yg tidak rasional itu tidak dianggap sebagai suatu fakta oleh otak kita.
Sekte-sekte sesat atau ajaran-ajaran yg tidak benar selalu berusaha mencegah para pengikutnya untuk berpikir secara rasional atau kritis. Jika daya kritis seseorang sudah dilumpuhkan, atau dibuat lemah atau tidak bekerja maka dia akan menerima ajaran seaneh apapun yang disodorkan kepadanya. Tetapi sekali mereka mulai mau menggunakan rasionya sehingga daya kritis mereka mulai berfungsi maka kedok ajaran sesat ini akan terbongkar. Karena daya kritis ini merupakan saringan bagi pikiran manusia, maka pikiran yang kritis tersebut akan bisa mendeteksi keanehan-keanehan yang ada pada ajaran-ajaran yang sesat yang akan dimasukkan ke dalam pikirannya.
Malas menggunakan daya kritis untuk menguji apakah yang disodorkan kepadanya itu valid atau tidak, akan membuat seseorang tersesat. Entah ia akan menjadi seorang yang tidak mempunyai pendirian atau di sisi yang lain, menjadi orang yg berpikiran tertutup, bebal, tidak bisa menerima sudut pandang atau pendapat yg berbeda dan menjadi fanatik terhadap sesuatu yang sebenarnya tidak benar. Pendek kata, tidak menggunakan akal dan nalar, dan tidak mengembangkan daya kritis, yang merupakan anugerah Tuhan, adalah sangat berbahaya karena dapat membawa orang kepada malapetaka yang sangat besar.
Orang yang open minded dan sekaligus kritis (rasional-logis) biasanya adalah orang yg toleran tetapi sekaligus sangat teguh dalam apa yang diyakininya. Ia tahu benar apa yang dipercayainya dan dapat mempertanggungjawabkannya dengan baik, tetapi sekaligus juga terbuka terhadap ide-ide, informasi dan masukan yg baru. Bagi dia adalah bodoh mempertahankan suatu pendapat atau pendirian yg di kemudian hari ternyata salah atau tidak logis. Tetapi ia juga sangat teguh dalam mempertahankan apa yg dipercayainya, jika itu didukung dengan pengetahuan dan pemikirannya yg terbaik.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H