Lihat ke Halaman Asli

Nur Fauziah

Mahasisiwi

Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel

Diperbarui: 3 April 2023   15:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pada abad ke-15, perang, pedang, dan meriam melanda banyak wilayah. Setiap pertempuran menghasilkan tokoh-tokoh hebat dengan keahlian militer yang luar biasa. Salah satu tokoh tersebut adalah Sultan Mehmed II, yang dikenal dunia dengan nama Muhammad Al Fatih yang berarti "Muhammad sang Penakluk". Pada kesempatan kali ini, aku pengen ngebahas tentang kehidupan dan penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al Fatih.

Sultan Muhammad Al-Fatih, lahir pada tanggal 30 Maret 1432 di Edirne, Turki dengan nama Mehmed bin Murad. Ayahnya adalah Sultan Murad II, yang saat itu memimpin Kekaisaran Utsmaniyah. Ibunya adalah Hma Hatun, yang merupakan istri keempat dari Sultan Murad II. Muhammad Al Fatih merupakan anak ketiga dari Sultan Murad II. Kehebatannya terkenal melalui penaklukan Konstantinopel yang berhasil dilakukannya. Sultan Muhammad Al Fatih meninggal pada tanggal 3 Mei 1481 di Istanbul. Ia merupakan seorang pemimpin terkenal dalam sejarah dunia, dan kepemimpinannya yang sukses sebagai Sultan Utsmaniyah masih dihormati hingga saat ini.

Muhammad Al-Fatih menghabiskan masa kecilnya di Edirne, salah satu kota penting di Kekaisaran Utsmaniyah pada masa itu. Sebagai putra Sultan Murad II, Muhammad Al-Fatih mendapatkan pendidikan yang baik dan diberi kesempatan untuk belajar ilmu agama, bahasa, sejarah, dan seni militer. Pendidikan ini sangat penting bagi masa depannya sebagai seorang penguasa.

Naik Tahta Saat Usia Belia

Mohammad Al-Fatih naik tahta pertama kali pada usia 12 tahun. Namun, tidak lama setelah naik tahta, perjanjian perdamaian yang dibuat oleh ayahnya dilanggar oleh musuh-musuh Turki Utsmaniyah. Raja Hungaria, Paus, Kekaisaran Bizantium (yang juga dikenal sebagai Romawi Timur), dan Venesia melihat kenaikan tahta Mohammad Al-Fatih yang masih sangat belia sebagai kesempatan untuk mengorganisir Perang Salib.

Muhammad Al-Fatih hanya memerintah selama dua tahun karena pada tahun 1446, banyak tokoh politik dan militer meminta Murad II untuk kembali ke tahta dan memimpin Turki Utsmaniyah. Selama waktu ini, Mehmed kembali memerintah di Manisa dan melanjutkan studinya.

Naik Tahta Kembali

Pada tahun 1451, Sultan Murad II meninggal. Untuk kedua kalinya, Muhammad Al-Fatih naik tahta sebagai Sultan Turki Utsmaniyah, tetapi kali ini ia sudah berusia 19 tahun. Dengan tekad yang kuat untuk membuktikan dirinya di mata tokoh senior dan masyarakat Turki Utsmaniyah, Muhammad Al-Fatih berambisi untuk merebut Konstantinopel, ibu kota Bizantium (Romawi Timur). Ia segera mempersiapkan pasukannya untuk menghadapi pertempuran yang akan datang.

Penaklukan Konstantinopel

Sebelum kita ngebahas tentang penaklukan ini, aku pengen share beberapa hal yang harus kita ketahui tentang Konstantinopel ini, guys.

Pertama, Konstantinopel yang sekarang kita kenal sebagai Istanbul, itu tuh udah berusia ratusan tahun, loh. Kota ini didirikan pada tahun 330 pada zaman Romawi. Selain posisinya yang strategis sebagai jembatan antara Asia dan Eropa, Konstantinopel juga merupakan pusat agama Kristen Ortodoks, sehingga memiliki arti penting secara simbolis.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline