Lihat ke Halaman Asli

Nunung Kusumawati

Aktivitas sehari-hari sebagai pengajar SMA di Semarang

Gurih, Mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah

Diperbarui: 27 Juni 2021   19:12

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Menjadi guru adalah pilihan hidup saya, mengapa? karena guru selalu dekat dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bisa menuntaskan persoalan. 

Mencapai puncak karier rasanya menjadi impian semua orang yang menekuni pekerjaannya. Sebagai seorang guru akan senang  jika suatu saat menjadi pemimpin sekolah, atau disebut sebagai kepala sekolah. Namun perjalanan karier menjadi kepala sekolah tidaklah serta merta melekat pada setiap orang. Selain menjalani proses menjadi pendidik yang baik dan melewati beberapa posisi struktural, seorang kepala sekolah harus memiliki modal ilmu dan lima kompetensi antara lain kompetensi kepribadian,  manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.

whatsapp-image-2021-06-27-at-19-01-36-4-60d86b259cac1b278d388dc2.jpeg

Baru-baru ini, saya ditunjuk oleh lembaga dan yayasan sekolah untuk mengikuti Diklat Calon Kepala Sekolah (CKS), sejurus dengan permendikbud nomor 13 tahun 2007 tentang  standar kualifikasi dan kompetensi kepala sekolah. Setelah lolos mengikuti seleksi substansi bersama delapan teman yang lain, kami kemudian mengikuti kegiatan ini yang berlangsung mulai dari 1 April 2021 hingga hari ini dan akan berakhir pada 1 Juli 2021. 

Gurih, mungkin itu diksi yang bisa mewakili bagaimana rasa mengikuti kegiatan Diklat CKS ini. Seperti ketika Anda sedang menyantap masakan yang menurut Anda rasanya gurih,  nah, itulah rasanya yang saya rasakan saat ini. berbagai rasa menyatu menimbulkan sensasi di lidah. Ada asin, sedikit manis, atau bahkan pedas menendang di mulut. Semua rasa memiliki powernya masing-masing yang berujung pada rasa nikmat. Kenikmatan bisa diperoleh jika kita memiliki kemampuan menghayati sesuatu. 

whatsapp-image-2021-06-27-at-19-01-36-2-60d86ae006310e034e54b912.jpeg

Ah, saya malah menulis kemana-kemana, he he. Mari kembali ke pengalaman saya mengikuti Diklat CKS. Teori mengajar, ilmu manajerial, dan lain-lain  diramu dalam kegiatan On-the Job Training 1 (OJT 1), In-Service Training 1 (IST 1), On the Job Training 2 (OJT 2), dan In-Service Training 2 (IST 2) sebanyak 300 JP. Semua menjadi petualangan gurih yang saya rasakan. Pasti Anda penasaran, kok dari tadi gurih terus, ayo dong kasih tahu mana gurihnya?

Sabar para pembaca yang budiman. Gurihnya mengikuti kegiatan ini ketika saya dan teman-teman melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh trainer. Ngomong-ngomong, trainer kami ini luar biasa. Pak Samsuri selalu mengajak kami untuk fokus dan memahami  substansi sehingga tidak terjebak pada hal-hal teknis. Keberanian berpikir merdeka inilah yang saya paling sukai dari Beliau. Oh ya, kemana-mana lagi saya. Tugas gurihnya antara lain melaksanakan tugas Rencana Proyek Kepemimpinan (RPK), Kajian Manajerial (KM), dan Peningkatan Kompetensi (PK).

Mari kita tengok satu persatu. RPK, sebuah proyek yang menguji CKS agar tercermin nilai-nilai  kepemimpinannya dalam pembelajaran, kewirausahaan, serta kepemimpinan sekolah. Untuk itu CKS harus menemukan masalah di sekolah berdasarkan rapor mutu dan atau EDS (Evaluasi Diri Sekolah) serta berupaya mencari solusinya. 

Proyek menantang ini  mengajari saya banyak hal, seperti belajar tentang rapor mutu, EDS, menggali akar masalah dan menghubungkannya dengan proses pembelajaran, hingga students wellbeing (kebahagiaan murid). 

Hal ini butuh analisis dan pengendapan pemahaman khususnya tentang murid. Ya, bukankah semua jungkir balik kita di sekolah sebagai guru orientasinya untuk murid? Apakah murid kita sudah mendapatkan layanan sesuai SKL (Standar Kompetensi Lulusan)? Apakah murid kita bahagia selama mengikuti pembelajaran? Nah, ini yang perlu kita renungkan! Pelaksanaan proyek ini dikerjakan mulai menemukan masalah, solusi dan aplikasinya, monitoring & evaluasi, hingga refleksi. Gurih, bukan?

Berikutnya mengkaji manajerial. Lagi-lagi semua upaya guru di sekolah adalah untuk murid, maka perlu manajerial yang bagus. Saya kembali belajar tentang Kajian Manajerial (KM) yang tidak hanya di sekolah saya, SMA Islam Hidayatullah Semarang namun juga di SMAN 4 Semarang sebagai sekolah magang. Kegurihan hadir lagi saat saya membaca dokumentasi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang berisi tentang delapan SNP (Standar Nasional Pendidikan). 

Dari "buku sakti" ini dan rapor mutu sekolah saya menemukan peluang/aset-aset berharga yang bisa dikembangkan untuk kemajuan sekolah sekaligus tantangan- tantangan yang harus ditemukan solusi "strategisnya." 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline