Menengok desa kelahiran di Turi Yogyakarta. Berbincang sejenak dengan saudara dan beberapa petani di sana.
Kini sawah di sana tak banyak lagi ditanami padi. Dulu, mungkin juga sekarang, menanam padi itu rugi. Lalu tibalah masa keemasan buah salak. Para petani itu beralih menanam salak. Salak pondoh namanya. Rasanya manis, semanis harganya waktu itu.
Tapi itu dulu. Kini harga salak pondoh jatuh menjadi tak seberapa. Hanya Rp 3.000 per kilogramnya. Para Petani itu kembali mengeluh dan mengelus dada
Mungkin memang seperti itu nasib para petani apapun di Indonesia. Harga komoditas pertanian seringkali tinggi tetapi yang menikmati untung adalah para pedagang. Pedagang punya modal besar, bisa menetapkan jalur distribusi dan bisa permainkan harga.
Petani terpaksa mau dengan mekanisme distribusi dan harga yang ditetapkan sang pedagang pemilik modal besar.
Sampai kapankah nasib petani Indonesia seperti ini? Pertanyaan itu tak terjawab karena udara pedesaan yang dingin memaksa saya masuk ke gubug sederhana saudara dan menarik selimut serta terbawa mimpi.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H