Artikel ini merupakan sambungan dari artikel sebelumnya. Untuk membaca artikel sebelumnya, sila dibaca disini
Ringkasan kisah sebelumnya
Ayahku memutuskan pindah rumah ke gang senggol. SEbuah gang kecil yang hanya muat untuk 2 sepeda motor. Banyak kenangan di gang senggol ini.
Kisah Selanjutnya
Perjuangan ayahku membangun rumah boleh dibilang luar biasa. Tanah di Jakarta awal tahun 1980-an sudah mulai mahal. Sebagai PNS sebenarnya ayah sering mendapatkan tawaran rumah subsidi dari pemerintah bekerjasama dengan Perumnas. Namun Ayah dan Ibuku tidak tertarik karena letaknya dipinggiran Jakarta atau malah sudah diluar Jakarta seperti Bekasi, Tangerang Depok atau Bogor.
Dengan alasan jauh dari lokasi mengajar ayahku di Tanah tinggi Jakarta Pusat ayahku tak pernah mengambil tawaran rumah subsidi pemerintah dan diakhir masa tuanya hal ini menjadi salah satu penyesalan
Tanah yang saat ini menjadi rumahku awalnya milik seorang tetangga yang berprofesi sebagai polisi, karena kebutuhannya beberapakali tetangga ini meminjam uang kepada ayahku dengan janji akan mengembalikan. Namun karena tak kunjung bisa dikembalikan, tetanggaku ini menawarkan tanahnya untuk dibeli ayahku dengan potongan hutangnya.
Diatas Tanah itu sendiri telah berdiri sebuah sumur tua, kamar mandi umum dan sebuah pohon beringin besar yang 'angker'. Banyak cerita cerita menyeramkan di pohon ini. Apalagi ada cerita tentang seorang yang bunuh diri di kamar mandi. Kisah horor ini sempat membuat Ayahku ragu ragu.
Namun bila tidak diambil tawaran ini, Ayahku akan kehilangan kesempatam memiliki rumah sendiri. Apalagi saat itu sudah memiliki dua putra yang terus tumbuh besar. Walaupun tabungan ayah dan ibuku belum cukup untuk membayar harga tanah yang ditawarkan.
Untuk mengatasinya Ibuku menjual perhiasan emas milikinya yang dihadiahi nenekku. Hampir seluruh perhiasan emas yang dimiliki ibuku terjual . Sebagian sisa uangnya disimpan untuk persiapan membangun rumah.