Lihat ke Halaman Asli

Adhi Nugroho

Blogger | Author | Analyst

Daripada Putus Kuota, Lebih Baik Switch Aja!

Diperbarui: 12 September 2020   22:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Daripada putus kuota, lebih baik switch aja! | Sumber: dokumentasi pribadi.

Harta, tahta, dan wanita bukan lagi ukuran kesuksesan seorang pria. Pada era digital, anggapan itu telah berubah menjadi harta, tahta, dan kuota. Daripada putus kuota, lebih baik switch aja!

***

Tahun ini adalah tahun keempat saya menjalani profesi ganda. Sepanjang pekan saya bekerja sebagai analis ekonomi di salah satu lembaga negara. Mengutak-atik angka dan data, menyusun tabel dan grafik, untuk selanjutnya diolah dan dirangkai menjadi analisis maupun kajian ekonomi terkini.

Begitu akhir pekan tiba, segala urusan kantor saya singkirkan sejenak. Dasi dan kemeja kerja saya tanggalkan, berganti jubah menjadi seorang blogger. Kecuali diterpa sakit atau ada urusan mendadak, rutinitas menulis di platform digital saya lakoni dengan konsisten dan sepenuh hati.

Suatu ketika sejawat di kantor pernah bertanya. Katanya, apa yang melandasi keputusan saya menjalani peran “hidup di dua alam”? Sudah nyaman terima gaji tiap akhir bulan, kenapa harus bersusah-payah merangkai kata pada platform digital?

Well, kepadanya saya hanya menjawab. Setiap orang butuh berekspresi. Bagi saya, menulis adalah cara saya mengekspresikan diri. Melalui rangkaian aksara, saya bebas menuangkan ide dan gagasan sesuka hati. Dan, pada era digital, blog adalah media literasi yang paling banyak dibaca dan dicari orang. Sederhana, kan?

Sekalipun tugas analis ekonomi dan blogger bak langit dan bumi, namun keduanya punya satu kesamaan. Sama-sama memerlukan sokongan atau dukungan internet. Apalagi, sejak pandemi COVID-19 melanda dunia dan aktivitas fisik dibatasi, boleh dibilang internet adalah satu-satunya media yang bisa kita gunakan untuk terus berkarya.

Sejak enam bulan lalu kantor saya menerapkan kebijakan bekerja dari rumah, atau work from home (WFH), kepada sebagian besar karyawannya, termasuk saya. Aktivitas yang semula dilakukan secara tatap muka, kini dilakukan secara virtual.

Bekerja dari rumah, kebiasaan baru sejak pandemi COVID-19 meluas. | Sumber: dokumentasi pribadi.

Perubahan itu menyebabkan penggunaan internet saya melonjak tajam. Bukan apa-apa, dalam sehari saya bisa menghadiri empat hingga lima kali rapat virtual. Asal tahu saja, sekali rapat bisa memakan waktu satu hingga dua jam. Itu belum termasuk kuota untuk mencari data dan indikator ekonomi di ranah maya.

Uniknya, kebiasaan baru berupa temu wicara virtual bukan hanya lazim dilakukan untuk urusan kantor, tetapi juga menyasar dunia kepenulisan. Dalam enam bulan terakhir, sudah tiga penyelenggara meminta saya menjadi narasumber dalam lokakarya kepenulisan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline