Rumah, tak berpintu tanpa jendela. tertinggal aku sebatangkara di dalamnya. meratap penuh harap, menangisi yang semalaman terjadi, dini hari sampai siang tadi. aku merasa tak tahu adab seperti bajingan biadab. aku membuat cinta marah, kemudian diam. Sejadi-jadinya sungai mengalir dari kedua sudut mata.
aku ingin keluar dari rumah kepedihan sore ini. berjalan menyusuri sungai, berharap belajar mengalir tanpa mengeluh. tapi hujan tiba-tiba. tak peduli badan, aku terus berjalan, merasa dosa tak pernah bertemu pengampunan.
cinta tak bertinta, begitu gemuruh seolah langit runtuh. aku hanya bisa tergolek tak mengelok. cinta begitu diam hingga sunyi-senyap, seolah berada di kuburan tua. “aku bisa apa?” sesaat sebelum peti matiku ditutup, sungai-sungai itu meluap. memburai ke langit lapang, langit yang selalu engkau pandang.
sambil menggigit bibir, mata bergenang-linang. kamu tak mau sedikit lebih manja. tidak, kepada cinta yang marah masih diam. kelak kamu akan memaafkan semua kesedihan yang aku ciptakan. sementaranya aku pergi untuk sebuah datang yang abadi.
Sumber: http://idnobody.com/2016/10/23/cinta-marah-dan-diam/
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H