Lihat ke Halaman Asli

Ninoy N Karundeng

TERVERIFIKASI

Seorang penulis yang menulis untuk kehidupan manusia yang lebih baik.

Prabowo, Manuver Amien Rais, dan Satrio Piningit

Diperbarui: 23 Juni 2015   23:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Manuver Amien Rais yang mengumpulkan para partai berbasis Islam, PKB, PAN, PBB, PKS, membuat peta koalisi berantakan. Bahkan diyakini bahwa manuver Amien Rais mampu melahirkan Satrio Piningit. Peta baru koalisi tergambarkan bentuknya. Terlepas dari isu kontroversial Amien Rais, gagasan yang dibawa oleh empat partai Islam itu akan mewarnai keputusan bagi PDIP, Gerindra, dan Golkar.

Isu pentingnya suara umat Islam menjadi titik sentral diskusi. Sejak awal penulis telah menuliskan bahwa kekuatan partai berbasis agama akan menentukan arah koalisi. Apakah faktor pendorong terbentuknya poros baru dan dampak bagi pencalonan Jokowi, Ical dan Prabowo?

Ada tiga alasan pendorong terbentuknya koalisi poros baru yang disebut Poros Indonesia Raya yang digagas Amien Rais. Dan, ini jangan diremehkan dan sangat mungkin terbentuk.

Pertama, kegagalan PDIP (19%), Golkar (14%) dan Gerindra (11%) mendominasi perolehan suara pileg dan meratanya perolehan partai berbasis Islam PKB (9%), PPP (6%), PAN (7%), PKS (7%) dan ‘keberhasilan' NasDem (6%) Demokrat (10%) dan Hanura (5%) membuat setiap partai penting dan menentukan.

Maka koalisi NasDem-PDIP membuyarkan semua partai - yang menyebabkan PDIP-Nasdem menjadi partai pertama yang dipastikan mampu mengusung capres-cawapres berdasarkan jumlah kursi di Parlemen yang mendekati angka 25%. Golkar dan Hanura masih membutuhkan satu partai untuk mengusung Ical.

Sementara Gerindra belum mendapatkan satu pun calon partai koalisi - meskipun bermodalkan Prabowo yang digadang akan menang melawan Jokowi - namun realita sebagai partai menengah mendekati perolehan suara Demokrat menimbulkan posisi tawar rendah. Akibatnya, Gerindra menjadi satu-satunya partai yang mengobral dagang sapi dan kursi.

Sedangkan koalisi ramping PDIP-NasDem mengakibatkan dampak yang luar biasa bagi semua partai. Tradisi bag-bagi kue kursi akan terpangkaskan. Kekuatan dan nilai tawar semua partai meningkat namun sekaligus menurunkan nilai tawar Golkar dan Gerindra. Justru Demokrat, PAN, PPP, PKB, PKS, memiliki posisi tawar yang sangat tinggi.

Kondisi ini memicu partai berbasis Islam melakukan perhitungan ulang. Kalau sebelumnya PKB (9%), PPP (6%), PAN (7%), PKS (7%) terpecah ingin bergabung dengan Jokowi atau Prabowo, dengan kondisi riil dan nyata peta pertarungan berubah, maka kesempatan menyatukan poros koalisi baru terbukti akan terjadi dan sangat feasible.

Kedua, daya tolak terhadap tiga capres (Jokowi, Ical, Prabowo) di masyarakat ternyata tinggi. Tingginya elektabilitas Jokowi ternyata dibarengi dengan kontroversi dari lawan politik Prabowo yang efektif membangun opini keburukan Jokowi. Tindakan kampanye hitam dan putih serta abu-abu Prabowo ternyata juga semakin membuat Prabowo tak nyaman. Isu pelanggaran HAM dan penculikan yang terbukti menghempaskan Prabowo dari kursi Danjen Kopassus waktu itu.

Hasil kampanye hitam putih dan hijau, baik bagi Jokowi maupun Prabowo menimbulkan pergesekan di masyarakat dan memiliki daya tolak. Sementara Aburizal Bakrie yang sudah kalah sebelum bertanding tetap tak beranjak dan tenang dengan isu Lumpur Lapindo yang tak akan meningkatkan kesempatan menjadi presiden.

Kondisi Jokowi yang menjadi abu-abu elektabilitasnya dan penolakan mengingatkan penggirangan opini terhadap Megawati pada tahun 1999 ketika PDIP sebagai pemenang pemilu ditolak menjadi presiden dengan alasan perempuan - namun ketika Gus Dur dijatuhkan Megawati tetap menjadi presiden menggantikan Gus Dur. Aneh.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline