Lihat ke Halaman Asli

niken nawang sari

Ibu Rumah Tangga. Kadang nulis juga di www.nickenblackcat.com

Jeritan Sebuah Bangunan Tua di Jalur Mati

Diperbarui: 27 April 2016   07:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="stasiun bringin saat ini"][/caption]Perkenalkan aku hanyalah sebuah bangunan tua yg sudah dikoyak oleh sekitarku. Bahkan mungkin aku dilupakan bahwa aku ada di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. 

Letakku tidak jauh dari Stasiun Tuntang. Aku bernama Stasiun Bringin. Aku dibangun tahun 1873. Aku mulai ditinggalkan tahun 1976. Kau tau kenapa aku ditinggalkan? Kalau kau buka riwayat hidupku, kau pasti akan mendapatkan jawabannya. Aku masuk ke dalam wilayah Daop IV Semarang.

Dulu, kau pasti tidak menyangka bahwa tempatku ramai dikunjungi. Kau tau letakku begitu strategis, dekat dengan pasar Bringin. Merupakan stasiun penghubung antara Ambarawa dan Kedungjati. Apa kau kenal stasiun Kedungjati? Dia kembar dengan stasiun Ambarawa. Mungkin lain kali aku akan menceritakannya padamu.

Kau tau aku senang ketika daerah sekitarku dibersihkan dari rumah warga. Rasanya aku tidak kesepian ketika ada rumah warga tetapi sebagian dari mereka mengoyak tubuhku. Membangun sarang burung walet dengan mengoyak tubuhku, itu menyakitkan. 

Bahkan papan namaku sudah entah dimana. Tapi aku sudah memaafkan mereka, mungkin mereka tidak tau pentingnya aku dulu bagi warga disana, sebelum terkoyak dan seperti sekarang.

[caption caption="bagian dalam"]

[/caption]Sekarang aku hanya ditemani sebuah gudang kayu yang sama-sama sudah koyak dan water torrance. Kami terkoyak juga oleh alam. Hujan dan panas sudah kami lalui hampir empat dekade. Kini kau dapat melihatku dari jalan raya. 

Sebagian besar tubuhku sudah hilang, koyak dan tegel lantaiku pun banyak yang sudah lepas. Beberapa anak muda kadang mengunjungiku tapi hanya untuk berfoto di dalam ku. Mereka tidak menyapaku atau bahkan menepuk badanku. Ya aku sebenarnya tidak suka dikunjungi oleh alayers. Tapi masih beruntung aku tidak dikunjungi untuk uji nyali. 

Kudengar pernah beberapa rumah tua dikunjungi untuk uji nyali tapi akhirnya hanya sandiwara yang membuat manusia semakin takut untuk mengunjungi kami. Padahal penghuninya tidak merasuki peserta uji nyali. Penghuninya hanya terdiam di pojok dan memperhatikan mereka yang mengambil gambar tanpa mengganggu.

[caption caption="bagian depan stasiun"]

[/caption]Oh iya di depan terasku banyak sekali rumput hijau. Kambing-kambing bermain sambil makan rumput. Sebagian dari mereka berbulu putih, tapi ada juga yang berbulu hitam. 

Aku tidak detail memperhatikan mereka, hanya memperhatikan kambing kecil yang dengan bahagianya berlari kesana-kemari. Memang tidak terlalu ramai tapi setidaknya mereka tidak menyakitiku dengan menancapkan besi, menghancurkan atau mengambil bagian-bagian tubuhku.

Suatu hari aku merasa senang ketika ada beberapa orang bermobil putih mengunjungiku, mereka menyapaku kemudian menepuk badanku dan berharap aku segera diaktifkan kembali. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline