Lihat ke Halaman Asli

Masjid dan Pasar, Menarik 'Kan?

Diperbarui: 8 April 2023   13:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Masjid Jamik Agung Tengah Sawah di dekat Pasar Bawah, Bukittinggi. Pic source: dok. pribadi

Buat aku yang orang Jawa, aku pernah mendengar. Bahwa umumnya, jika sebuah kota mempunyai alun-alun, maka di sebelah baratnya akan ada masjid jamik. Ya, seperti yang kita tahu, alun-alun adalah sebuah ruangan terbuka, yang biasanya terletak di tengah-tengah suatu kota. Alun-alun kebanyakan berbentuk taman, yang akan menjadi pusat kegiatan masyarakat untuk berkumpul atau mengisi waktu senggang.

Sedangkan masjid jamik sendiri, adalah sebuah masjid berukuran relatif besar, yang biasanya akan menjadi salah satu ikon kota. Sehingga di sekitar alun-alun, kebanyakan akan didapati sebuah masjid agung atau jamik. Lantaran ukurannya yang besar, maka masjid ini bisa menampung banyak jamaah. Khususnya di iven besar seperti sholat Jumat maupun sholat di hari raya.

Namun, masjid jamik tidak saja berada di sekitar alun-alun sebuah kota atau kabupaten. Ada pula masjid jamik yang letaknya tidak jauh dari pasar. Seperti yang ada di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.

Hhmm, tidak terasa. Sudah empat tahun aku berdomisili di Bukittinggi. Karena tuntutan pekerjaan, aku akhirnya menetap di kota bersuhu dingin ini. Sebuah kota yang konon pernah menjadi ibukota negara, saat diberlakukannya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Bukittinggi memang memiliki sejarah yang panjang. Kota ini pernah menjadi ibukota provinsi Sumatera Tengah, sebelum akhirnya pecah menjadi tiga provinsi: Sumatera Barat, Riau, dan Jambi. Ikon paling populer yang ada di Bukittinggi, tentu saja Jam Gadang. Dan bahkan menurutku, area Jam Gadang inilah yang bisa disebut sebagai alaun-alunnya Kota Bukittinggi.

Di sekitar Jam Gadang, ada dua pasar yang amat tersohor. Pertama adalah Pasar Atas (Pasa Ateh), dan satunya lagi adalah Pasar Bawah (Pasa Bawah). Nah, di dekat Pasar Bawah, berdiri sebuah masjid yang ukurannya cukup besar. Masjid ini bernama Masjid Jamik Agung Tengah Sawah.

Kenapa dinamakan "Tengah Sawah"? Ya karena daerah dimana masjid itu berdiri memang bernama Aur Tajungkang Tengah Sawah. Mengingat letaknya yang berimpitan dengan area pasar, di depan pagar halaman masjid sudah berjejer para pedagang yang menjajakan aneka kebutuhan.


Barangkali bagi orang lain, masjid jamik ini terkesan biasa saja. Buat orang-orang yang baru saja berbelanja, bisa singgah sejenak di masjid untuk melaksanakan sholat maupun sekadar istirahat. Namun bagiku, masjid jamik ini memiliki arti tersendiri.

Saat aku datang ke Bukittinggi empat tahun yang lalu, aku mendapatkan tempat kost yang tidak jauh dari masjid ini. Oleh karenanya, aku selalu mendengar setiap kumandang azan yang terlantun dari masjid ini. Kadang kalau iman sedang di level tinggi, aku begitu ringan untuk menjalankan sholat fardhu di masjid tersebut. Karena letaknya yang tak sampai 500 meter dari tempat kostku.

Pada Ramadan 2019, adalah puasa pertamaku di ranah Sumatera Barat ini. Dan Masjid Jamik Agung Tengah Sawah menjadi salah satu saksi bisu, bagaimana aku menjalani puasa di perantauan. Jauh dari orangtua, dan semua kulakukan secara mandiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline