Waktu menunjukan pukul 2 siang,setelah pulang reservasi tiket di Lion air travel, tiba tiba saya teringat sudah hampir setahun lebih saya tidak mampir ke PMI pusat DKI di kramat raya,tempat yang rutin yang biasa di kunjungi untuk berdonor darah 3 bulanan .[caption caption="Tempat pendaftaran "]
Masuk lewat pintu utama,ternyata desain ruangan sudah berubah total.Mengambil no antrian lalu mengisi formulir dan menunggu panggilan untuk tes HB dan tensi.
Yang menarik dari desain ruangan yang baru adalah 2 pohon plastik dengan banyak nama yang tertera di daunnya.1 pohon untuk yang sudah 75 kali berdonor,1 lagi untuk yang 100 kali berdonor.Saya mencoba membaca satu persatu nama yang tertera di pohon,terlihat nama nama dari berbagai macam suku,agama dan ras yang ada di seluruh Indonesia.Dari sabang sampai merauke, dari pribumi sampai etnis thionghoa.Terpikirlah oleh saya,memang sudah pantaslah orang orang ini di beri penghargaan,bayangkan kalau setiap kali berdonor saja kita baiasanya menyumbang paling sedikit 300 cc,silahkan anda kalikan 75 atau 100,bisa kebayang kan berapa banyak darah yang di sumbangkan.Yang lebih luar biasa dari semua hal ini adalah berapa nyawa yang di selamatkan tanpa berharap terima kasih dari yang menerima darah , dan satu hal lagi ,mereka yang menerima darah pendonor, sudah pasti menjadi saudara sedarah tanpa harus lahir dari ibu dan bapak yang yang sama. Hebat kan cara Tuhan menyebarkan kasih sayang lewat berdonor darah?
Mendengar nama antrian saya di panggil,langsung menuju meja untuk tes HB dan syukurlah hari itu hb saya 13 dan mendapat ijin untuk berdonor darah,bagi yang hb nya kurang dari 13 anda pasti akan di larang untuk berdonor,tips bagi yang ingin berdonor haruslah mempersiapkan diri beberapa hari dengan makan dan istirahat yang cukup.
Di panggil menuju ruang dokter untuk konseling dan tensi,saya di persilahkan untuk menuju ruang transfusi yang juga sudah baru tata ruangnya.menaruh formulir untuk menunggu di panggil,saya mencuci lengan yang akan di tusuk jarum.
Tiba giliran tranfursi si petugas ramah menyapa dan memastikan kalau nama kita lah yang tertera di kantong darah.”Cuss” serasa di gigit semut dan tak terasa darah mengalir lewat selang.beberapa menit kemudian timbangan darah berbunyi.tanda bawa kantung darah saya sudah mulai penuh.
Selesai berdonor mengambil kartu dan vitamin,dan menuju ruang makan tempat kita istirahat dengan menikmati pilihan menu yang ada secara gratis.
Tak terasa sudah 17 kali berdonor darah,walaupun sangat telat umur awal memulai berdonor darah tapi ada asa , suatu saat nama saya juga tertera di pohon 75 atau 100, Amin.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H