Quiet quitting atau berhenti secara diam-diam, yaitu fenomena karyawan yang meninggalkan organisasi tanpa pemberitahuan atau keriuhan, merupakan kekhawatiran yang semakin meningkat di tempat kerja dalam era modern saat ini
Meskipun beberapa orang mungkin memandangnya sebagai pilihan pribadi, namun dampak dari quiet quitting dapat merugikan keberhasilan organisasi.
Sebagai pendapat pribadi, Quiet quitting dapat dianggap buruk atau biasa saja tergantung pada konteks dan situasinya.
Quiet quitting merujuk pada tindakan seseorang untuk berhenti dari pekerjaan atau tanggung jawab tanpa memberi tahu atasan atau rekan kerja dengan jelas.
Dalam beberapa kasus, quiet quitting dapat dianggap buruk karena dapat meninggalkan kekosongan dalam pekerjaan atau tanggung jawab yang tidak terpenuhi.
Hal ini dapat mengganggu produktivitas tim dan menciptakan ketidakpastian di tempat kerja.
Namun, ada juga situasi di mana quiet quitting dianggap biasa saja. Misalnya, jika seseorang merasa tidak aman atau tidak nyaman di tempat kerja, mereka mungkin memilih quiet quitting untuk melindungi diri mereka sendiri.
Dalam kasus seperti itu, quiet quitting dapat dianggap sebagai tindakan yang wajar untuk menjaga kesejahteraan pribadi.
Setiap Individu Punya Konteks yang Berbeda
Penting untuk diingat bahwa setiap situasi berbeda, dan penting untuk mempertimbangkan faktor-faktor individu dan konteks sebelum membuat penilaian tentang apakah quiet quitting itu buruk atau biasa saja.
Ketika karyawan memilih untuk keluar secara diam-diam, mereka mungkin sudah kehilangan peran mereka secara emosional, yang mengakibatkan menurunnya motivasi dan komitmen terhadap pekerjaan mereka.