Lihat ke Halaman Asli

Murwani Suciati

Seorang pendidik dan ibu rumah tangga

Nyadran, Sebuah Tradisi Penuh Makna

Diperbarui: 4 Maret 2024   09:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Nyadran, Sebuah Tradisi Penuh Makna
Pada setiap bulan Rajab (penanggalan Hijriyah) atau sasi Ruwah (penanggalan Jawa), di jawa diselenggarakan sebuah tradisi Nyadran. Tradisi ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih dilestarikan hingga saat ini.

Tradisi nyadran merupakan budaya mendoakan arwah para leluhur yang telah meninggal, yang pada perkembangannya ditambahi dengan pentas budaya yang menghibur warga Masyarakat. 

Tradisi nyadran ini merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan ajaran agama Islam. Nyadran yang diadakan di bulan Rajab ini sekaligus menjadi tradisi menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Prosesi nyadran ini berbeda-beda di tiap daerah. Di dusun Kemasan, sebuah wilayaahdi kabupaten Bantul, nyadran ini dikemas secara sederhana dan dijadikan moment mengumpulkan warga untuk berdoa bersama dan mendengarkan tausiyah/ceramah dari tokoh agama yang biasa disebut "mbah Kaum."

Kegiatan nyadran ini diawali dengan para bapak kerjabakti membersihkan makam dan mengatur tempat untuk acara nyadran. Sedangkan para ibu memasak bersama untuk membuat sego gurih, sebuah hidangan yang berisi nasi dan lauk kering ditambah ketan kolak apem. Ketan kolak apem ini mempunyai makna permintaan ampun kepada Alloh SWT dan permintaan maaf kepada sesama manusia.

Setelah semuanya siap, maka seluruh warga Masyarakat mulai berkumpul. Mereka Nampak membawa bungkusan nasi dan lauk-pauknya untuk nanti saling bertukar antar warga. Warga dari anak-anak sampai orangtua Nampak antusias menghadiri acara tersebut. Tidak pandang bulu, tua-muda, kaya-miskin semua duduk bersama beralaskan tikar.

Acara diawali dengan sambutan dari pemuka Masyarakat, dalam hal ini disampaikan oleh ketua RT setempat. Beliau menyampaikan pentingnya menjaga silaturohim dan persatuan antar warga masyarakat serta pentingnya nguri-uri (melestarikan) budaya leluhur.

Acara dilanjutkan dengan ceramah/tausiyah yang disampaikan oleh kaum rois atau pemuka agama setempat. Beliau menyampaikan tentang hakekat nyadran. 

Nyadran berasal dari Bahasa Arab yang artinya "sodrun" yang artinya dada. Di dalam dada ada "lubun" yang artinya hati. Di dalam hati ada "sirun" yang artinya tersembunyi. Jadi maknanya supaya kita membersihkan hati dari kesyirikan menuju ketauhidan atau mengesakan Alloh.

Acara dilanjutkan dengan membaca kalimat toyyibah berupa dzikir tahlil bersama-sama dipimpin oleh pak kaum rois. Kalimat tahlil yaitu "laa ilaha illalloh" dibaca seratus kali untuk lebih menguatkan dan membersihkan Aqidah atau keimanan.

Rangkaian dzikir tahlil ini diakhiri dengan doa untuk leluhur yang telah meninggal dan juga untuk seluruh ahli waris. Doa dipimpin oleh kaum rois ini diaminkan oleh seluruh warga masyarakat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline