Lihat ke Halaman Asli

Munawwir Ahmad

Mahasiswa Sejarah Peradaban Islam UIN Bandung

HMI sebagai Organisasi Perjuangan: Tak Bisa Diharapkan Lebih

Diperbarui: 27 April 2022   03:33

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

HMI hadir disebuah ruang sederhana di kelas kuliah STII (Sekarang UII), pada 5 Februari 1947 tanpa sebuah seremoni yang istimewa. Ketika itu Raflan Pane sebagai Pemrakarsa tampil menjelaskan maksud dan tujuan didirikannya, akhirnya disepakati oleh 14 orang lainnya yang berada di ruang kuliah itu, yang menjadi pendiri HMI. Pemuda bernama Raflan Pane dengan segala kemewahan dari idealisme yang ia miliki memiliki cita-cita bahwa HMI ini harus menjadi organisasi besar dan mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Ia sampai merelakan jabatannya sebagai Ketua Umum kepada seseorang yang ia kenal disebuah perjalanan Kereta Api ke Surabaya. Ia ingin menghilangkan sentimen bahwa HMI hanya dikampus Islam saja, agar dari berbagai kampus umum lainnya bisa menerima kehadiran HMI. Kebesaran hati Raflan Pane ini membuahkan hasil yang gemilang dengan diterimanya HMI di berbagai kampus.

HMI telah tumbuh menjadi organisasi besar yang mampu mengakomodir berbagai anggotanya yang memiliki latar belakang keislaman yang berbeda. Kebesaran HMI ini memberikan pengaruh yang positif terhadap HMI baik secara sosial maupun politik. HMI hadir ditengah kemelut bangsa yang penuh dengan persoalan yang puncaknya terjadi Gestafu 1965 yang menimbulkan krisis Nasional yang begitu tragis

HMI teruji dari serangkaian terror yang menyerangnya hingga HMI tidak jadi dibubarkan oleh Bung Karno ketika itu. Kelihaian HMI dalam memainkan dinamika keadaan membuatnya bisa tampil sebagai pemenang membawa para tokoh HMI ketika itu tampil ke panggung politik nasional, tentu hal ini membawa dampak positif terhadap perkembangan HMI di kampus-kampus baik kampus Islam maupun kampus Islam, namun dari sini dampak negatifnya bagi penulis sendiri menimbulkan benih-benih pragmatisme dan lebih banyak memanfaatkan momentum untuk ia bisa tampil dipanggung.

Kemewahan Idealisme mulai terbentur dengan realita aji mumpung, Ahmad Wahib dalam catatan hariannya Pergolakan Pemikiran IslamI menilai HMI kini telah tumbuh menjadi Organisasi Politik. Pada masa itu dengan kita memiliki title Kader HMI semacam punya Privillage bisa menjadi Dosen,Birokrat dll. Jika kita punya senior yang sedang manggung di Kancah Daerah maupun Nasional tentu itu bisa mengangkat kita paling tidak menjadi bawahannya. Tentu hal ini memiliki semacam kebermanfaatan secara kelompok maupun Pribadi. Hal ini tentu bagi penulis sangat bertentangan dengan cita-cita HMI yang begitu mewah telah mengalami kemerosotan.

Bahkan hingga hari ini penulis melihat HMI di kampus penulis sendiri ditingkat paling bawah (Komisariat/Fakultas) banyak dikecam oleh sejumlah mahasiswa yang merasa HMI hanya mementingkan kelompoknya, sehingga HMI jauh dari masyarakat baik mahasiswa maupun masyarakat yang lebih luas, HMI tidak lagi mampu mengakomidir berbagai keresahan mahasiswa yang mana hal ini berpengaruh terhadap eksistensi dari keberadaan HMI sendiri tentu dampaknya menjadi sulit untuk mencari kader. Bahkan keinginan mahasiswa yang masuk HMI hari ini hanya karena ia ingin tampil menjadi pimipinan organisasi Intra kampus semacam HMJ/HIMA DEMA-F/BEM-F DEMA-U/BEM-U,

 penulis melihat lebih banyak orang yang ingin tampil dibawah kebesaran nama HMI ketimbang menjadikan HMI segai tempat ia menerpa diri atau mengasah kualitas intelektual dan keilmuan mahasiswa.

Dalam suatu momentum perkaderan penulis berbincang via WhatsApp dengan seorang mahasiswa baru yang memiliki keinginan untuk bergabung dengan HMI

Maba : Assalamualaikum Kang Saya Mahasiswa baru Ingin bergabung dengan HMI…………

Penulis: Walaikum salam, boleh. Ngomong-ngomong sebelumnya tau HMI dari siapa? Lalu apa tujuan kamu masuk HMI

Maba: Saya tau dari temen kang, katanya kalo di UIN kita mau masuk BEM itu punya Baground Jadi saya memilih untuk masuk HMI biar bisa jadi BEM

Disini penulis menyimpulkan bahwa memang HMI ini telah tumbuh menjadi sebuah kendaraan untuk mendapatkan panggung dan jabatan bergengsi lainnya di dunia mahasiswa sehingga peminat HMI itu mengalami perubahan orientasi yang menyebabkan HMI hari ini tidak bisa lagi menjadi sebuah organisasi ideal. Namun disamping itu juga penulis masih juga menemukan para mahasiswa baru yang masih mengharapkan kepada HMI sebagai tempat untuk ia berproses, mengembangkan bakat dalam mengasah kualitas berfikir. Penulis sendiri sebagai salah satu pengurus komisariat melihat fenomena ini tentu agak miris, ditambah dengan masih adanya kekecewaan dari mahasiswa yang telah mengikuti Basic Training, banyak pula yang kaget ehhh ko HMI TUH Giniiii gitu yang tentu tak sesuai dengan ekspektasi mahasiswa yang mengikuti HMI.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline