Oleh: Mukhtar Habib
Pagi itu serasa dingin, terotak sampai ke ubun-ubun
Sesaat berpikir jauh, terawang ke luar sana tentang sebuah kisah
Melanjutkan sajak bersama tinta sendu yang bersahabat
Takkan sepi meski tajuknya hanya segelas "Kopi di Awal Januari"
Pena itu seakan-akan siap untuk angkuh
Tegak lurus menggoreskan huruf demi huruf
Sewaktu jeda, ku tenggak kopi harum itu
Haaaah..., nikmat rasanya, goyang kata-kata di kepala ku seakan buah yang terikat
Kata itu, jatuh satu per satu dari tangkainya